KABUPATEN BLITAR - Di Bumi Penataran terdapat dua pembangkit listrik. Salah satunya pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Lodoyo di Desa Gogodeso, Kecamatan Kanigoro. Selain sumber penerangan, area bendungan ini juga menjadi sumber penghasilan bagi masyarakat sekitar.
Selama ini, PLTA Lodoyo menjadi magnet masyarakat. Tiang penyangga berukuran besar yang membujur antara Desa Darungan dan Desa Gogodeso di Kecamatan Kanigoro itu membuat banyak mata takjub.
Bukan hanya warga luar daerah, masyarakat lokal juga sering bersantai di lokasi tersebut. Terlebih lagi, di komplek PLTA ini terdapat area terbuka yang cocok untuk menghabiskan waktu.
Ibarat ada gula ada semut, aktivtas masyarakat ini juga mengundang minat sejumlah pelaku usaha kecil untuk mencari keuntungan. Makanan ringan lengkap dengan minuman menjadi mayoritas dagangannya.
Harga makanan yang dijajakan di tempat ini tergolong murah meriah. Sebab, para pedagang juga sadar bahwa produk dan pasar mereka adalah masyarakat sekitar. Sehingga mereka tetap nyaman meski berkali-kali datang ke lokasi tersebut. “Karena terjangkau, tidak masalah meski sudah sering datang ke sini,” ujar Muhamad Tri Wahyudi, warga Desa Jimbe, Kecamatan kademangan.
Masyarakat biasanya berdatangan pada sore hari. Puncaknya sekitar jam 4 sore. Pada jam itu kebanyakan para pemuda yang akan memenuhi area taman di PLTA Lodoyo ini. “Pada jam Magrib area taman ini sudah sepi aktivtas,” katanya.
Umumnya, masyarakat yang datang ke area taman PLTA Lodoyo ini hanya untuk bersantai. Jika beruntung, mereka bisa menikmati panorama sunset dari area bendungan tersebut. “Ndelok matahari tenggelam pas sore iku nyenengno ati, opo meneh dibaturi keluarga,” ucap pengunjung lain, Mujito.
Sajian pohon-pohon rindang yang sangat banyak membuat para pengunjung betah untuk berlama-lama menikmati sore hari di area taman bendungan serut. Apalagi semilir angin sepoi-sepoi membuat suasana kian nyaman. “ kalau di sini membawa anak kecil tak takut mereka gerah atau kepanasan” imbuhnya.
Sayangkan, aktivitas di lokasi ini belum bisa 24 jam. Mungkin karena kurangnya sarana pengamanan sehingga jelang Isya sudah tidak lagi terlihat hilir mudik warga. Para pedagang juga mengemasi sarana perdagangan masing-masing. “Mungkin karena tidak boleh ya, kan bahaya kalau dibiarkan sampai malam ada aktivitas, apalagi yang beraktivitas muda mudi belum menikah,” cletuk Sultoni warga luar daerah. (mg2/hai)
Editor : Doni Setiawan