Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Suka Duka Rio Eka Saputra, Perajin Perlengkapan Jaranan Asal Nglegok

Agus Muhaimin • Kamis, 10 Agustus 2023 | 01:00 WIB
TELITI: Rio memahat lembaran kulit sapi untuk jamang barongan di rumahnya kemarin (30/7).
TELITI: Rio memahat lembaran kulit sapi untuk jamang barongan di rumahnya kemarin (30/7).

KABUPATEN BLITAR - Tidak hanya sebagai pemain, Rio Eka Saputra pemuda Desa Kemloko, Kecamantan Nglegok juga terampil membuat piranti kebutuhan seni pertunjukan jaranan. Meski pendapatan saat ini tidak pasti, dia optimistis ada peluang besar di masa depan.

Cuaca tidak benar-benar gelap. Namun, Rio membutuhkan penerangan dari lampu neon di ruang kerjanya. Perlahan, tangan kirinya mengambil tatah seukuran satu mili. Menggunakan palu dari kayu, tatah itu digunakan untuk melubangi dan membuat pola pada lembaran kulit sapi yang nanti digunakan sebagai komponen barongan. Orang-orang menyebutnya dengan jamang.

Mengukir lembaran kulit sapi menjadi rutinitas Rio sejak lama. Selain jamang, dia juga piawai membuat wayang kulit. Namun biasanya hal itu bukan menjadi bagiannya. Sebab ada perajin lain yang berspesialis menjadi pada bagian finishing meskipun secara teknis dia juga andal dalam bidang tersebut.

Alasan Rio tidak menangan pengecatan sederhana. Baginya, dengan menangani ukiran saja pekerjaan lebih cepat. Di sisi lain, itu juga memberikan peluang perajin lain untuk berkarya. “Kalau mau fokus, sekitar 2 hari selesai membuat ukiran jamang. Tapi kadang ada saja kendala,” katanya sembari terkekeh.

Ya, usianya kini baru menginjak 20 tahun. Kadang dia tidak bisa menolak ajakan teman untuk nongkrong. Alhasil, tugas membuat kerajinan ini sedikit lebih lama.

Sejatinya Rio juga memiliki komitmen. Asalkan, pemesan jasanya menentukan deadline yang pasti. Sebab, tak jarang dia menerima pesanan jamang dengan jadwal yang agak longgar. “Dulu pernah ada yang pesan dibuatkan wayang, tapi ternya tidak diambil-ambil,” tururnya.

Pengalaman itu membuatnya sedikit bersantai terhadap sejumlah pemesan. Berbeda cerita ketika pemesan menentukan deadline terlebih memiliki komitmen yang diwujudkan dengan uang muka.

Untuk jasa, Rio tidak mematok harga tinggi. Untuk pekerjaan memahat selama tiga hari dia hanya mengambil jasa sekitar Rp 300 ribu. Sedangkan, jika include dengan bahan, biasanya satu jamang dihargai sekitar Rp 500 ribu. “Kalau sudah jadi harganya mahal karena harga cat juga bervariasi,” jelas dia.

Itu juga dipengaruhi permintaan pemesan. Kadang ada pelanggan yang menginginkan barangnya memiliki kualitas super. Misalnya menggunakan pelapis emas pada beberapa bagian. “Kadang ada juga yang minta dari kulit kerbau. itu lebih mahal dari kulit sapi, karena ketahanan kulit kerbau lebih baik,” jelas dia.

Di desa ini konon ada banyak perajin kulit untuk kesenian jaranan maupun wayang. Sayangnya, jumlah pemuda yang menggeluti kegiatan ini tidak banyak. Rata-rata mereka memilih ke kota besar atau merantau ke luar negeri. Alasanya, pekerjaan menjadi perajin tidak tentu.

Bagi Rio, hal itu sangat logis. Sebab, tidak setiap hari ada pesanan. Meski animo masyarakat terhadap seni dan kerajinan masih cukup baik. “Tapi kalau dibiarkan saja tidak ada lagi perajin jamang atau wayang kulit di desa ini. Kalau pilihan dan peluangnya jelas tentu tidak perlu merantau ke luar negeri ,” keluh dia.

Menurutnya, harus ada dukungan atau campur tangan banyak pihak untuk urusan kesenian ini. Artinya memberikan arahan serta memberikan wadah yang jelas untuk para perajin di Desa Kemloko. “Keterampilan warga desa ini juga cukup komplit, ada yang memahat, mengukir hingga pengecetan. Kalau jadi sentra ukir atau pahat sangat mungkin tidak terlalu sulit. Jadi kalau ke Blitar cari wayang atau barongan ya harus ke Kemloko di sentralnya kerajinan jaranan atau barongan,” pungkasnya. (hai)

Editor : Doni Setiawan
#jaranan #perajin kulit #Kulit Sapi