KABUPATEN BLITAR - Di saat budaya modern lokal dan luar negeri banyak digemari masyarakat luas, tantangannya adalah membuat seni tradisional juga digemari khususnya oleh generasi muda agar terus bertahan dan dapat berkembang mengikuti perkembangan zaman. Salah satunya Kesenian Ledek yang ada di Blitar, seni tari tradisional ini kurang diminati bahkan banyak dari generasi muda ini tidak mengenal apa itu Kesenian Ledek.
Perlunya peran Seniman daerah dan Pemerintah terkait, untuk saling berkolaborasi mengenalkan dan melestarikan kesenian ini kepada generasi muda. Adalah Mike Yuliana, Mahasiswa Prodi Seni Teater tingkat akhir Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta Surabaya ini membuat ujian tugas akhirnya dengan menggelar teater Penciptaan Penyutradaraan Naskah Konde yang Terburai.
Berawal dari keresahan, Mike sapaan akrabnya membuat gelaran ini dengan harapan dapat mengenalkan, menghidupkan dan melestarikan kesenian tayub ledekan blitar karena menurutnya literasi bisa dihidupkan dengan gaya teatrikal. Bertindak sebagai sutradara dalam gelaran Konde yang Terburai ini, Mike mengungkapkan jika isi dari cerita teater Konde yang Terburai ini mengangkat tentang kesetaraan gender dan untuk artinya sendiri Konde adalah simbol mahkota perempuan.
Pagelaran teater ini menggabungkan antara seni teater dengan seni ledek, dan juga mengusung konsep Eco Teater atau Teater Lingkungan. Mike menambahkan gelaran ini menarik teori dari salah satu akademisi yaitu Richard Schechner. “Di Blitar pertama kali ada konsep pendekatan teater pakai teori Richard Schechner. Kolaborasi ini adalah salah satu terobosan luar biasa dan patut mendapat apresiasi dari pemerintah. “Ungkap Koko Hari Pramono selaku kepala LPMB bidang kemahasiswaan.
Perempuan yang sempat menempuh Study Pendidikan Bahasa Inggris dan Pendidikan Karakter ini menjelaskan, proses awal hingga akhir untuk menggelar pertunjukan ini lumayan cukup lama. “Untuk riset kurang lebih 3 bulan karena keterbatasan narasumber, 4 bulan sudah masuk finishing, dan persiapan pagelarannya cuma 5 minggu aja. “Ungkap Mike.
Dr. Indra Sabri, S.Sn, M.Pd selaku Penguji Ahli tugas akhir gelaran Konde yang Terburai ini menambahkan, bahwa mahasiswa Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta Surabaya di bebaskan mahasiswanya untuk menggelar karya tugas akhir di daerah masing-masing. Karena selain berkarya di daerahnya sendiri, juga dapat menunjukkan hasil belajarnya kepada masyarakat daerahnya.
Pagelaran Konde yang Terburai diadakan di lapangan Desa Bangsri, Kecamatan Nglegok menjadi perhatian salah satu Dosen Artistik Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta Surabaya yakni Heni Purnomo, S.Sn, M,Pd bagus dari sisi inovasi karena menggelar teater yang biasanya tempat indoor, ini di gelar di tempat outdoor. “Ini merupakan tantangan karena setting tempat di outdoor jadi harus mempertimbangkan lingkungan disekitar lokasi pementasan, setting lighting dan audio juga harus di pertimbangkan. “Ujar Heni.(nan)
Editor : Doni Setiawan