KABUPATEN BLITAR - Berbagai cara dilakukan masyarakat untuk merayakan Hari Kemerdekaan Indonesia. Salah satunya dengan mengikuti karnaval seperti warga RT 2 RW 3 Desa Soso, Kecamatan Gandusari, kemarin (13/8). Dalam Soso Cultre Carnival, paguyuban ini tidak hanya sekadar menyajikan tarian. Namun juga ada produk UMKM yang dikemas dengan unik untuk mendukung usaha warga.
Rute karnaval ini cukup jauh yakni lebih dari 3 kilometer. Dimulai dari Lapangan Nyunyur di Dusun Maguan. Kegiatan ini dimulai sejak pukul 11.00 WIB dengan diikuti sekitar 39 peserta atau kelompok dari berbagai lingkungan dan lembaga di Desa Soso.
“Kami menempati urutan ke-8, dengan membawa sekitar 75 warga yang ikut berpartisipasi dalam karnaval ini. Kali ini cukup meriah, karena baru pertama kali ada karnaval setelah pandemi Korona,” ujar Ketua RT 2 RW 3, Wajib Zulhabibi.
Pada barisan pertama, paguyuban RT 2 RW 3 ini menampilkan parade kostum karnaval yang dibawakan lima perempuan dengan pakaian warna-warni. Parade kostum ini cukup spesial lantaran kelompok lain tidak memilikinya.
Setelah itu, menampilkan seorang putri memakai kostum biru cerah dengan membawa tongkat putih duduk di atas mobil pikap. Kendaraan itu dihias dengan tampilan burung merak yang juga berwarna biru. Putri tersebut tersenyum selama perjalan dari garis start menuju garis finis yang ada di perbatasan Desa Soso dengan Desa Babadan.
“Pada perayaan Dirgahayu NKRI Ke-78, kami menyajikan karnaval yang bertemakan kesederhanaan. Dengan menampilkan produk-produk lokal, yakni membawa gunung yang berisi kerupuk buatan warga kami,” ungkapnya.
Laki-laki yang memakai kostum Gatot Kaca ini menjelaskan, proses pembuatan gunungan kerupuk itu dilakukan selama seminggu. Gunungan itu terdiri dari berbagai macam jenis seperti kerupuk sambel, kerupuk ketela, kerupuk gambir, dan anekan olahan ketela. Dengan semangat kemerdekaan dan kekompakan, warga RT 2 RW 3 bisa menampilkan gunungan kerupuk setinggi 3 meter.
Tujuannya menampilkan produk UMKM itu untuk menunjukkan kepada peserta lain dan penonton bila lingkungannya memiliki kuliner yang khas. Selain itu juga untuk memajukan perekonomian para warganya.
Setelah ditemui, Wajib langsung ikut bergabung di dalam barisan untuk ikut menari di belakang gunungan kerupuk tersbut. Dia menari di antara para penari lain yang memakai kostum merah dengan membawa payung transparan. “Harapan kami ke depannya lebih semangat lagi dan kreatif untuk menampilkan karnaval yang meriah dan unik,” tutupnya.(jar/c1/hai)