KOTA BLITAR - Kegiatan sarat unsur seni terus menggeliat di Kota Proklamator. Salah satunya, yakni pasar jaranan dan barongan di Kelurahan Blitar, Kecamatan Sukorejo. Acara ini bergulir setiap tiga bulan sekali. Nah, pada bulan kemerdekaan Indonesia ini, ada makna tersendiri bagi para pengunjung.
Lapangan sepak bola di Kelurahan Blitar, Kecamatan Sukorejo kemarin (14/8) tampak riuh. Sejumlah pedagang juga memadati lapangan yang terletak di selatan jalan itu. Panggung berukuran sedang, lengkap dengan barikade seketika menyita perhatian para audiens. Mereka memperhatikan panitia mengusung peralatan teknis, seperti lampu, smooke, dan lain sebagainya. Itu agar penampilan jaranan dan barongan lebih dramatis.
“Masih gladi bersih sepertinya, tapi lucu. Anak-anak tampil, sekaligus biar senang sama budaya lokal,” ujar pengunjung asal Kecamatan Sananwetan, Purwita, yang kebetulan datang bersama keluarga.
Perempuan ramah itu mengaku, tontonan pasar jaranan dan kesenian lokal lainnya punya magnet tersendiri. Baginya, budaya tersebut penting untuk terus dilestarikan. Bukan hanya oleh para seniman, namun juga semua lapisan masyarakat.
Dia sengaja datang bersama keluarga. Menurut dia, kemasan penampilan jaranan yang lebih kekinian, sangat cocok jika disaksikan bersama keluarga dan kolega. Family vibes, kata dia, terasa kuat di gelaran itu. “Lebih enak aja kalau nontonnya bareng-bareng. Sekalian kenalkan budaya ke anak-anak juga. Selain seniman, masyarakat juga melestarikan dengan cara mengapresiasi seniman yang manggung,” ungkapnya.
Tak lama, seorang pria bertubuh tegap beristirahat di sebelah utara panggung. Sambil sesekali memandangi ponsel, dia juga memantau penataan panggung agar sedap dipandang mata. Pria itu tak lain bernama Deni Wahyu. Dia merupakan salah satu panitia dari gelaran swadaya itu.
Deni menyebut, pasar jaranan yang digagas pada tahun lalu itu punya misi meningkatkan ketertarikan generasi muda terhadap seni. Untuk itu, acara tersebut difungsikan sebagai wadah bagi masyarakat yang ingin mendalami jaranan ataupun barongan yang membumi di Bumi Bung Karno.
“Kami sengaja bertanya di luar. Memang banyak bilang, acaranya family vibes. Jadi tidak nonton berduaan atau sendirian saja,” terang pria berusia 40 tahun itu.
Kesan nyaman kala pengunjung menonton bersama keluarga pun disikapi secara apik. Yakni, mendekatkan kesenian kepada anak usia dini. Mereka yang datang bersama orang tua, seolah tidak takut berinteraksi dengan barongan. Adapun keberadaan panggung, secara tak langsung juga menjadi jarak aman antara penonton dan penampil.
Deni mengaku, pasar jaranan ini semakin terasa istimewa tatkala digelar berbarengan dengan HUT ke-78 Kemerdekaan RI yang diperingati pada Kamis, (17/8) mendatang. Tim di balik layar pun mengemas pasar jaranan itu lebih terasa nasionalisme-nya dengan digelarnya upacara bendera.
“Rencanannya nanti saat hari kemerdekaan, pagi ada upacara di sini. Sore penurunan bendera. Otomatis, ada pergeseran penampil,” imbuhnya.
Pentas para pelaku seni yang berlangsung hingga Sabtu (19/8) itu, tak cuma sebagai perangsang eksistensi seni. Tetapi, juga menggeliatkan pelaku usaha ekonomi kreatif (ekraf). Seperti produsen souvenir, pembuat barongan, serta jaranan, agar tetap berkarya. “Tentunya para pedagang kaki lima juga merasakan manfaat adanya keramaian ini,” akunya.
“Karena tiga bulan sekali. Kebetulan juga momen Agustus-an, semoga saja jiwa nasionalisme dan darah seni membaur di hari kemerdekaan,” harapnya. (luk/ady)
Editor : Doni Setiawan