Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

PPAI Gelar Kontes Ayam untuk Tingkatkan Ekonomi Peternak, Sekaligus Lestarikan Tradisi dan Budaya

Fajar Rahmad Ali Wardana • Senin, 21 Agustus 2023 | 19:13 WIB

 

MERIAH ; Ketua PPAI Blitar Raya, Stevanus Rudy Widodo bersama beberapa pantia kontes ayam prestasi di Kelurahan Tanjungsari, Kecamatan Sukorejo, kemarin (20/8).
MERIAH ; Ketua PPAI Blitar Raya, Stevanus Rudy Widodo bersama beberapa pantia kontes ayam prestasi di Kelurahan Tanjungsari, Kecamatan Sukorejo, kemarin (20/8).

KOTA BLITAR - Beragam lomba diadakan untuk merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-78 Kemerdekaan Republik Indonesia. Seperti dilakukan Perkumpulan Penggemar Ayam Indonesia (PPAI) Cabang Blitar Raya. Kemarin (20/8), mereka mengadakan kontes ayam di Kelurahan Tangjungsari, Kecamatan Sukorejo, sekaligus mendorong munculnnya bibit-bibit ayam berkualitas.

Dari dalam sangkar itu, puluhan ayam jantan hampir berkokok bersamaan. Tak jauh dari mereka tampak belasan piala penghargaan disiapkan oleh panitia kontes prestasi yang digelar di Kelurahan Tanjungsari ini.

“Lomba atau kontes ayam ini ajang untuk menyalurkan hobi, seni, dan tradisi. Meskipun adu ayam, lomba ini tidak ada judi (uang) dan lembaga kami sudah legal. Dalam lomba ini menguji kualitas ayam dan daya rawat peternaknya,” ujar Stevanus Rudy Widodo, Ketua PPAI Cabang Blitar Raya, yang ditemui di lokasi.

Selain tidak adanya judi, jalu ayam juga dipotong. Itu untuk menghindari kekerasan atau saling bunuh ketika ayam bertarung.

Lomba ini juga memiliki durasi pertandingan dalam setiap kategori. Ada juri khusus yang melakukan penilaian atau memberikan poin.

Bobot ayam yang mengikuti lomba ini dibatasi. Yakni, 2,4 kg hingga 3,4 kg. Sistem durasi digunakan untuk membedakan kelas perlombaan. Kelas galatama berdurasi 2x20 menit, kelas ekshibisi 3x20 menit, dan silver 2x20 menit. Pada masing-masing kelas ada jeda istirahat 5 menit.

“Kami akan tolak jika kami menemukan ayam yang tidak layak ikut mendaftar. Sebelum bertanding harus ditimbang dulu untuk mengetahui bobot dan menentukan lawan yang seimbang,” terangnya.

Ada enam arena perlombaan yang disediakan oleh panitia. Enam arena ini penuh sesak oleh peserta, berikut para pendukungnya. Di masing-masing arena juga terdapat juri yang melakukan penilaian dengan cermat.

Satu poin diberikan ketika kaki ayam yang bertanding berhasil menyentuh bulu lawannya. Lima poin diberikan saat ayam memiliki pukulan menggunakan paruh dan mengakibatkan lawannya oleng. Sebaliknya, ayam dianggap kalah ketika berlari menghindari lawan hingga meninggalkan arena pertandingan.

“Lomba ini bersifat lokal, dalam rangka memeriahkan HUT Kemerdekaan Indonesia. Terdapat lebih dari 150 peserta dari Blitar hingga luar kota, seperti Malang, Tulungagung, Kediri, Trenggalek, Ngawi, Bojonegoro, Jombang, dan lainnya,” ungkapnya.

Rudy menjelaskan, lomba ini semata untuk melestarikan tradisi dan kebudayaan. Sejalan dengan hal itu, dia menilai lomba ini bisa meningkatkan kesejahteraan peternak. Sebab, para peternak akan terpacu untuk melatih dan meningkatkan kualitas ternaknya. “Ketika ayam sudah menang, otomatis harga dari hewan ternak itu juga ikut tinggi,” tuturnya.

Semua peserta dan lomba ini dinaungi oleh lembaga PPAI yeng telah memiliki legalitas hukum. Bahkan, PPAI Blitar Raya ini juga diketahui oleh Wali Kota Blitar sehingga kegiatannya didukung.

“Kami berharap dengan lomba aduan ayam ini dapat menambah perekonomian peternak dan penggemar ayam. Selain itu, prospek ayam aduan yang kualitasnya meningkat dan menghasilkan kualitas ternak yang bagus,” pungkasnya.(jar/c1/hai)

Editor : Doni Setiawan
#HUT ke 78 Kemerdekaan RI #lomba agustusan #PPAI