KOTA BLITAR - Kota Blitar mendapat peringatan dini kekeringan meteorologis dengan status waspada dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Jawa Timur (Jatim). Kondisi tersebut akibat berkurangnya curah hujan di wilayah Kota Blitar. “Ya, berdasarkan surat edaran dari BMKG Jatim, Kota Blitar masuk dalam status siaga,” ungkap Kepala Bidang (Kabid) Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana (BPBD) Kota Blitar, Christian Winarno, kemarin (18/8).
BPBD tak menampik bahwa kemarau panjang bisa memicu terjadinya kekeringan. Namun, hingga kini BPDB Kota Blitar belum menerima laporan dari masyarakat yang mengeluhkan krisis air. Hanya terdapat penurunan debit air di beberapa sungai maupun sumur-sumur warga.
Namun, jelas Christian, penurunan itu tidak terlalu signifikan. Hal itu diprediksi karena banyaknya sumber mata air yang tersebar wilayah Kota. Meski begitu, BPBD mengimbau kepada masyarakat untuk tetap waspada karena semua wilayah berpotensi terjadi krisis air. Jikapun mengalami krisis air bersih harus melapor kepada kelurahan masing-masing agar segera mendapat bantuan. “Laporan dari kelurahan akan segera dilaporkan ke BPBD Jatim,” terangnya.
Untuk diketahui, pada 2019 terdapat laporan krisis air di beberapa wilayah Kota Blitar. Wilayah itu meliputi Kelurahan Ngadirejo, Kelurahan Bendo, Kelurahan Sentul, Kelurahan Tanggung, Kelurahan Gedog, Kelurahan Pakunden, dan Kelurahan Tanjungsari.
Berdasarkan rilis BMKG, terdapat tiga level peringatan dini kekeringan meteorologis. Level pertama, status waspada dengan kriteria jumlah hari tanpa hujan paling sedikit 21 hari. Level kedua, siaga dengan jumlah hari tanpa hujan mininal 31 hari. Dan, level terakhir, status awas dengan jumlah hari tanpa hujan paling sedikit 61 hari. “Ketiga level tersebut memiliki prakiraan probabilitas curah hujan kurang dari 20mm/dasarian di atas 70 persen,” ungkap prakirawan BMKG Stasiun Klimatologi Karangploso, Malang, Ahmad Lutfi.
Selain Kota Blitar, hampir seluruh daerah di Jatim bersatus siaga dan awas. Wilayah lain dengan status siaga yaitu Kota Batu, Kota Blitar, Kota Kediri, Kota Madiun, Kota Malang, Kota Probolinggo, Kota Mojokerto, Kabupaten Blitar, Kabupaten Gresik, Kabupaten Jember, Kabupaten Lamongan, Kabupaten Magetan, Kabupaten Sampang, Kabupaten Sumenep, dan Kabupaten Tuban.
Kemudian, wilayah dengan status awas yakni Kabupaten Bangkalan, Kabupaten Banyuwangi, Kabupaten Bojonegoro, Kabupaten Bondowodo, Kabupaten Jombang, Kabupaten Kediri, Kabupaten Lumajang, Kabupaten Madiun, Kabupaten Madiun, Kabupaten Mojokerto, Kabupaten Nganjuk, Kabupaten Ngawi, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Ponorogo, Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Sidoarjo, Kabupaten Sampang, Kabupaten Sitibondo, Kabupaten Trenggalek, Kota Pasuruan, Kabupaten Tulungagung, dan Kota Surabaya.
Untuk itu, BMKG mengimbau daerah dengan status siaga dan awas untuk melakukan langkah antisipatif. Yakni, dengan teknologi modifikasi cuaca (TMC); melakukan dropping/distribusi air bersih; waspada kebakaran hutan, lahan, maupun semak; dan budi daya tanaman pertanian yang tidak membutuhkan banyak air. “Diprediksi kekeringan meteorologis meluas hingga Oktober,” tandsnya. (mg1/c1/sub)
Editor : Doni Setiawan