KOTA BLITAR - Pembangunan di Kota Blitar yang terbilang gencar ternyata berdampak pada ketersediaan air. Diduga banyaknya alih fungsi lahan paling signifikan pada kondisi air tanah. Diperparah saat ini musim kemarau kering yang cukup meresahkan masyarakat, terutama petani yang saat ini siap untuk memulai musim tanam.
Berdasarkan informasi dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Blitar, kendati hanya memiliki tiga kecamatan, semua wilayah di Kota Blitar berpotensi kekeringan. Meskipun banyak sumber mata air yang tersebar hampir di semua kelurahan. Selain perubahan cuaca, alih fungsi lahan bisa menyebabkan penurunan debit air. “Hal itu bisa menyebabkan ketersediaan air menjadi berkurang,” ungkap Kepala Bidang (Kabid) Kedaruratan dan Logistik, BPBD Kota Blitar, Christian Winarno, kepada Koran ini kemarin (23/8).
Menurut dia, mayoritas warga kota adalah pengguna air tanah yang cenderung dangkal untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Apalagi jumlah yang digunakan juga semakin banyak seiring bertambahnya penduduk di kota Blitar. Tidak hanya bisa memicu terjadinya kekeringan, tapi juga memengaruhi kualitas air. “Makanya penggunaan air juga harus diperhatikan. Salah satu caranya dengan tetap menghemat penggunaan air,” tegasnya.
Beban lingkungan, jelas Christian, juga salah satu penyebab kekeringan di wilayah perkotaan. Misalnya penggunaan lahan untuk bangunan (alih fungsi, Red). Tentu hal tersebut juga menyebabkan penurunan debit air. Apalagi saat ini terjadi kemarau panjang yang diprediksi berlangsung hingga Oktober.
Kota Blitar sebenarnya masuk status siaga kekeringan berdasarkan data rilis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofika (BMKG). Bukan hanya untuk kebutuhan sehari-hari, tapi juga dalam bidang pertanian.
Surat edaran (SE) BMKG juga menyampaikan beberapa langkah antisipasi yang bisa dilakukan. Yakni dengan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC), melakukan dropping/distribusi air bersih, waspada kebakaran hutan, lahan, maupun semak, dan budidaya tanaman pertanian yang tidak membutuhkan banyak air. (mg1/ady).
Editor : Doni Setiawan