Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Suka Duka Mahmud Sanjaya, Warga Srengat ini 35 Tahun Jualan Batu Akik

Doni Setiawan • Selasa, 29 Agustus 2023 | 00:25 WIB

 

 

SURVIVE: Mahmud memberikan penjelasan asal muasal batu akik kepada pelanggan, di kios miliknya, kemarin (27/8).
SURVIVE: Mahmud memberikan penjelasan asal muasal batu akik kepada pelanggan, di kios miliknya, kemarin (27/8).

KOTA BLITAR - Puluhan tahun Mahmud Sanjaya menjajakan batu akik. Bermodal Rp150 ribu, Warga Kelurahan/Kecamatan Srengat ini berpindah dari pasar satu ke pasar lain. Kini, dia menetap di salah kios di Pasar Templek, Kota Blitar.

 Entah jadi koleksi atau dijual lagi, faktanya batu akik hingga kini masih diminati. Indikasinya, kios milik Mahmud tak pernah sepi dari kunjungan. Kemarin (27/8), pria 53 tahun ini tampak sibuk melayani pembeli yang silih berganti. “Yang ini jenis opal, bentuknya oval, jadi cocok pakai emban cincin yang bentuknya tanam,” ucapnya kepada calon pembeli.

Mahmud nyaris tak pernah beranjak dari kiosnya. Begitu juga untuk keperluan belanja. Selama ini sudah ada pemasok bahan. Tidak hanya batu akik, tetapi juga emban. Praktis, dia hanya tinggal memasangkan batu akik tersebut pada emban yang cocok sembari menunggu pelanggan.

Tidak banyak penghasilan atau omzet yang didapatkan Mahmud. Kendati begitu, dari batu akik, dia mampu menyekolahkan anak serta mencukupi kebutuhan keluarga. Termasuk membangun rumah. “Mungkin sekitar 35 tahun saya jualan batu akik. Sejak masih remaja sudah jual akik,” tuturnya.

Mahmud muda tertarik dengan hal-hal berbau klenik. Pada tahun 90-an, batu akik memang bukan barang yang umum dikenakan. Saat itu, dia tertarik untuk berjualan setelah ditawari seorang pedagang akik. Ada enam kotak berisi puluhan batu akik lengkap dengan cincinnya bisa dibawa Mahmud dengan harga Rp 150 ribu.

Untuk sekarang, jumlah itu sangat besar. Mengingat, harga bahan bakar minyak (BBM) kala itu bisa dibeli dengan harga kurang dari Rp 1.000 per liter. “Karena dijanjikan akan dibantu jualan, akhirnya saya beli,” kenangnya.

Benar saja, Mahmud dibantu jualan. Dia diarahkan ke beberapa pasar yang ada di Bumi Penataran untuk menjual batu akik tersebut. Tidak menetap, tetapi berpindah-pindah sesuai pasaran. “Jualannya di depan kios toko orang. Awalnya cukup bagus, tapi lama-kelamaan muncul saingan,” jelasnya sembari terkikik.

Merasa omzet berkurang, Mahmud mulai mencari alternatif tempat jualan lain. Alun-Alun Blitar menjadi targetnya. Di pusat kota ini, daganganya laris manis. Sayangnya, dia harus kucing-kucingan dengan petugas. Karena itu, dia memutuskan berpindah ke Jalan Mastrip yang tidak jauh dari pusat kota.

Di lokasi ini, kondisinya tak jauh beda. Dia harus siap jika ada patroli satpol PP. Barang harus dikemasi agar tidak ikut kegaruk petugas. “Ini benar, ada teman saya yang barangnya diangkut, tapi bukan batu akik. Makanya saat ada petugas ya harus segera dibereskan,” ungkapnya.

Beberapa tahun berikutnya, pemerintah memberikan fasilitas para pedagang dadakan tersebut untuk mangkal di Pasar Templek, Kota Blitar, yang menjadi tempat mengadu nasib Mahmud kini.

Batu akik pernah mengalami masa kejayaan beberapa tahun lalu. Tepatnya pada periode 2010 hingga 2015 lalu, akik memang sempat booming. Akik menjadi idola setiap pria. Harganya pun cukup gila. Mahmud juga menikmati masa kejayaan tesebut. “Dalam sehari, omzet itu bisa lebih dari Rp 5 juta,” katanya.

Masa-masa emas itu tidak sepenuhnya membahagiakan. Keuntungan tinggi dari jualan akik membuat Mahmud kurang waspada. Alhasil, dia kena tipu. Berkedok investasi, Mahmud tergiur dengan keuntungan besar. Puluhan juta laba jualan akik raib. “Untungnya sebagian masih bisa ditarik lagi meski butuh bertahun-tahun,” ucapnya.

Pengalaman ini membuatnya mawas diri. Tidak ada hasil besar dengan kerja instan. Butuh proses dan kerja keras. “Ya mudah-mudahan pasar batu akik kembali. Hal ini tentu tidak bisa dengan menunggu. Harus ada momen yang tepat serta dukungan dari banyak pihak termasuk pemerintah,” harapnya. (*/c1/hai)

Editor : Doni Setiawan
#batu akik #akik