KABUPATEN BLITAR – Kekeringan mulai melanda Kabupaten Blitar, utamanya di wilayah selatan. Sekitar 200 kepala keluarga (KK) di Desa tugurejo, Kecamatan Wates sulit mendapatkan akses air bersih untuk kebutuhan harian. Kini warga hanya menanti bantuan dari pemerintah untuk melakukan dropping air bersih.
Kondisi ini sudah berlangsung selama sebulan terakhir. Sumber-sumber air yang ada di desa itu mulai mengering begitu memasuki musim kemarau. Mirisnya, Kecamatan Wates merupakan salah satu langganan kekeringan tiap tahun, dimana Desa Tugurejo menjadi wilayah dengan dampak terparah.
“Sekarang sulit cari air. Sumber air sudah mengering sejak tidak adanya hujan beberapa bulan yang lalu. Saya harus membeli air yang harganya lebih Rp 100 ribu per galon,” kata salah seorang warga Desa Tugurejo, Ahmad Nanto.
Nanto mengaku, dia dan keluarga harus betul-betul mengirit penggunaan air bersih yang baru dibeli. Dia kudu memastikan efisiensi penggunaan air dalam keperluan harian seperti halnya mandi, minum, atau mencuc. Sedangkan, warga yang memiliki keterbatasan ekonomi harus berjalan beberapa kilometer (km) untuk mencari sumber air yang masih tersedia. “Kalau sumur sudah kering, ya pasti ke sumber air atau kucur untuk mencari air bersih. Meskipun jauh ya tetap didatangi. Kalau beli air ya harganya cukup mahal,” ungkapnya.
Merespon kondisi di lapangan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Blitar melakukan berkoordinasi dengan pemerintah desa (pemdes) setempat untuk keperluan pendataan jumlah warga terdampak kekeringan.
Data ini digunakan sebagai acuan pemerintah kabupaten (pemkab) dalam upaya dropping alias pengiriman air bersih ke pada warga terdampak kekeringan. Pekan lalu, BPBD Kabupaten Blitar melakukan dropping air bersih ke empat RT di Desa Tugurejo.
“Dropping air bersih sudah kami lakukan secara bergantian di empat RT terdampak. Dengan total yang terdampak kekeringan sekitar 200 keluarga. Dalam sehari melakukan dropping air sebanyak 6.000 liter air ke Desa Tugurejo,” kata Kepala Pelaksana BPBD kabupaten Blitar Ivong Bettryanto.
Koordinasi antara BPD dan pemdes setempat terus dilakukan. Itu agar pemdes dapat terus memonitor kondisi terkini para warga. Jika hasil monitoring menunjukkan adanya peningkatan jumlah warga terdampak, bukan tidak mungkin BPBD bakal meningkatkan jumlah air bersih yang di-dropping.
“Kami terus berkoordinasi dengan pemdes setempat untuk update data warga yang mulai terdampak kekeringan agar mendapat dropping air bersih. Sejauh ini masih Desa Tugurejo Kecamatan Wates saja yang mengalami kekeringan,” ungkapnya. (jar/dit)
Editor : Doni Setiawan