KOTA BLITAR - Yogi Rosdianta dan Santika Mawar jadi pasangan suami istri (pasutri) yang patut diacungi jempol. Kegigihannya menggeluti industri batik sejak 2019 membuat produk batik andalannya mendunia. Sejumlah negara di Benua Asia dan Eropa pun dibuat ketagihan dengan batik buatan mereka.
Masih membekas di benak Yogi Rosdianta dan istrinya, bagaimana kegigihan mendiang sang ibu, Elisabeth membumikan batik kepada kaum hawa. Tujuannya, agar perempuan berdaya, mandiri secara ekonomi, dan melestarikan budaya. Itu dilakukan secara ikhlas, tanpa pamrih. Elisabeth yang berpulang pada 2019 lalu, membuat Yogi meneruskan potensi pengembangan batik lebih intens.
Di awal melanjutkan tongkat estafet pelestarian batik, pasutri warga Jalan Tanjung, Kelurahan Pakunden, Kecamatan Sukorejo itu dihadapkan pada banyak tantangan. Salah satunya, keraguan imbas latar belakang masing-masing yang berbeda. Yogi berangkat dari kepiawaiannya di dunia penyiaran (broadcasting), sementara Santika mahir di dunia perbankan.
“Awalnya setelah ibu tiada, memang sempat bingung lanjut dan tidaknya (pembuatan batik). Tapi karena ibu effort-nya luar biasa, kami sebisa mungkin memantabkan niat untuk terjun,” kenang pria berusia 38 tahun itu.
Awal merintis, pasutri ini tak bisa langsung memproduksi batik lalu menjualnya begitu saja. Menurut Yogi, ada tahapan yang sengaja disusun sebagai langkah awal beradaptasi. Keduanya lantas saling berdiskusi agar bisnis batik kelak bisa menggurita.
Keduanya pun mengaku sempat pergi-pulang untuk riset ke sejumlah daerah sentra produksi kain batik. Seperti di Provinsi Jawa Tengah hingga Jawa Barat. Bukan tanpa alasan. Perjalanan panjang itu ditempuh demi pengembangan batik sesuai kemampuan dia dan sang istri. “Karena saya dulu lulusan IKJ (Institut Kesenian Jakarta) jadi unsur seninya saya lumayan ada. Kalau istri perbankan bantu di pemasaran produknya,” jelas pria ramah itu.
Kendati urung mahir berbisnis, dia berkeyakinan untuk membawa usaha tersebut semakin beda dari batik pada umumnya. Yakni, mengusung potensi kekayaan Kota Blitar yang dituangkan pada bentangan kain. Menurutnya, Bumi Bung Karno punya keragaman seni yang harus dikenal publik. Baik masyarakat domestik maupun mancanegara. “Saya dan istri lalu bikin usaha ini yang kental dengan unsur Kota Blitar. Di luar itu, kami tetap layani custom, tapi ruang kain yang kosong tetap diberi unsur batik khas kami,” bebernya.
Ada sejumlah motif kekayaan lokal yang dikreasikan. Misalnya, motif koi, bunga turi, tanjung, ataupun alat musik kendang. Baik produk kain, jaket maupun kemeja. Beberapa motif yang dicetak secara tulis maupun cap itu pun laris manis di pasaran. Dia menambahkan, sejak awal tahun ini motif desain barongan kucingan juga jadi primadona pelanggan.
Memanfaatkan relasi yang luas, Yogi lantas melebarkan sayap, menembus pasar internasional. Langkah awal yang dilakukan yakni menjalin relasi dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di beberapa negara Benua Biru. Perkenalan itu pun diterima dengan hangat. Yogi punya kesempatan lebar agar produknya mendunia. Bahkan, dipesan oleh pebasket NBA, Justin Holiday. “Sampai saat ini, yang selalu repeat order seperti Singapura, Malaysia, Turki, Inggris, Perancis, Belanda, Rusia, sampai Amerika. Mereka pesan satuan ataupun untuk keperluan dekor hotel,” tuturnya.
Persentase perbandingan pembeli lokal Indonesia yakni 50 persen, sedangkan pasar internasional juga 50 persen. Meski untuk mengirimkan ke luar negeri lebih mahal biaya ongkos kirim, lanjut Yogi, realitas pembeli tetap ketagihan produk khas Nusantara itu.
Dari sisi harga, Yogi menyebut menyesuaikan dengan tingkat kerumitan dan perkembangan yang ada. Untuk batik tulis dibanderol antara Rp 600 ribu hingga Rp 2 juta ke atas. Sedangkan batik cat berkisar di nominal Rp 200 ribu. “Terkait ekspor, batik itu kan barang handmade, bukan barang konteneran jadi lebih simpel. Yang penting, punya customer di sana. Pakai ekspedisi khusus, bisa hand to hand ke sana,” tandasnya. (*/sub)
Editor : Doni Setiawan