KABUPATEN BLITAR – Ogoh-ogoh kini menjadi karya seni yang sering ditampilkan dalam berbagai event. Misalnya, karnaval. Salah satu ogoh-ogoh karya warga Kelurahan Karangtengah, Kecamatan Sananwetan, pada 26 Agustus lalu turut memeriahkan Sananwetan Cinta Blitar Damai (SCBD) Carnival.
Ogoh-ogoh merupakan kerajinan yang berasal dari Pulau Bali. Seiring waktu, kerajinan patung raksasa itu juga dilirik masyarakat di luar Bali. Tak terkecuali warga Blitar. Kerajinan ogoh-ogoh tersebut mulai berkembang kurun 10 tahun terakhir.
Biasanya, karya ogoh-ogoh ditampilkan untuk memeriahkan Hari Nyepi. Namun, kini bergeser juga untuk kebutuhan karnaval di bulan-bulan tertentu seperti untuk acara Agustusan.
Ketua Karang Taruna Kelurahan Karangtengah, Zanu Wirawan mengungkapkan, pembuatan ogoh-ogoh dikhususkan untuk merayakan karnaval Agustusan di Sananwetan. Dalam pembuatannya menghabiskan dana Rp 3 juta. “Ya memang segitu, Mas. Paling banyak itu habis buat rangka dari besi. Kira-kira sekitar Rp 1 juta untuk rangkanya,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Blitar, Selasa (29/8) lalu.
Zanu mengaku ogoh-ogoh tersebut bukan murni dibuat oleh warga di lingkungan tempat tinggalnya. Akan tetapi, dia meminta bantuan perajin ogoh-ogoh dari Desa/Kecamatan Panggungrejo yakni Satrio. Ogoh-ogoh berkepala lembu atau sapi itu dibuat hampir satu bulan.
Satrio menjelaskan, membuat ogoh-ogoh hanya bermodalkan handphone. Artinya, dia membuat ogoh-ogoh dari referensi tayangan video di YouTube. “Saya tonton cara pembuatannya. Jadi semua otodidak,” akunya.
Sudah kali ketiga ini Satrio membuat ogoh-ogoh. Awalnya, dia iseng membuat ogoh-ogoh karena dulu untuk merayakan Agustusan di Kecamatan Panggungrejo. Dari situ, salah satu teman melirik karyanya hingga akhirnya mendapat pesanan untuk dibuatkan.
Karya ketiga yang dibuat itu berupa ogoh-ogoh “Lembu Suro”. Pesanan dari Zanu beserta warga di lingkungannya. Meski hasil otodidak, karya ogoh-ogoh Satrio juga disewa di beberapa tempat. ”Sering, Mas. Disewa. Saya membanderol sewa Rp 1 juta. Harga memang segitu. Soalnya kalau ada apa-apa, pemesan gak ganti rugi,” ujarnya.
Membuat ogoh-ogoh, Satrio dibantu oleh empat orang. Termasuk salah satunya Zanu. Bahan utamanya yakni besi untuk rangka patung raksasa tersebut. Kemudian, bambu, lem, hingga kertas bekas sak semen. ”Khusus sak semen itu butuh banyak. Untuk bagian dada saja butuh sekitar 40 sak,” jelasnya.
Semua bahan tersebut dirangkai hingga menjadi rangka ogoh-ogoh. Perlahan tetapi pasti, karya yang diinginkan tersebut jadi. Ogoh-ogoh itu dinamakan “Lembu Suro”.
Untuk sentuhan akhir, Satrio menggunakan cat untuk mewarnai seluruh bagian ogoh-ogoh. Pola warna disesuaikan dengan kebutuhan. Hasilnya terlihat gradiasi warna yang bagus layaknya patung itu hidup. “Jika lebih lama seharusnya lebih bagus dan detail,” jelasnya.
Saat semua terbentuk, patung yang mempunyai tinggi 2,80 meter dan berat sekitar 100 kilogram itu langsung dijemur dan siap untuk dipentaskan. Yang unik dari karya Satrio, bagian mata dari ogoh-ogoh tersebut bisa menyala ketika di malam hari. Seolah siap untuk menerkam siapa pun yang mendekat. (*/c1/sub)
Editor : Doni Setiawan