Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Mengadu Peruntungan dari Batu Akik, Pirus Super Masih Laku Rp 3 Juta Lebih

Agus Muhaimin • Senin, 4 September 2023 | 22:32 WIB

 

 

RUKUN: Supik sedang melayani pengunjung yang melihat-lihat akik koleksinya kemarin (31/8).
RUKUN: Supik sedang melayani pengunjung yang melihat-lihat akik koleksinya kemarin (31/8).

KOTA BLITAR – Minat masyarakat terhadap batu akik memang tidak seantusias dulu. Namun, batuan alam tersebut tampaknya mulai digandrungi kembali. Indikasinya, stan atau kios penjual batu akik di Pasar Templek, Kota Blitar, masih buka setiap hari. Konon, bulan Sura dan Haul Bung Karno menjadi puncak tertinggi penjualan.

Rata-rata, para pedagang batu akik di tempat ini beromzet Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta per hari. Pada momen tertentu, penjualannya naik dua kali lipat. Misalnya saat bulan Sura dan event Bulan Bung Karno setiap Juni. “Banyak pengunjung dari luar kota saat momen-momen ini,” kata pedagang batu akik, Supik.

Belasan tahun, Supik dan dua orang rekannya menjajakan dagangan yang sama. Selama ini mereka cukup akur mengais keuntungan dari batu akik. Misalnya dengan membuat kesepakatan untuk libur. “Libur kami gantian, sehingga pengunjung yang datang ke Pasar Templek ini tidak mungkin kecele dan tidak mendapatkan barang,” jelas dia.

Selama pandemi Korona, komoditas ini juga cukup laris manis. Kata Supik, batu akik bisa menjadi sarana penghibur. “Kalau banyak orang bingung, pasti batu akik banyak dicari. Mungkin karena bagian dari kesenangan ya, jadi akik jadi buruan,” jelas dia.

Ada banyak jenis batu yang dijual para pedagang. Selain jenis Agate, ada pula batu permata. Kualitasnya pun sengaja dibuat variatif menyesuaikan kemampuan pasar.

Batu jenis pirus masih menjadi primadona. Batu berwarna biru bermotif ini dianggap legend di kalangan pencinta akik. Motifnya yang acak dinilai sebagai keistimewaan. Motifnya tidak mungkin sama meski jenisnya sama.

Bagi Supik, pengujung adalah marketing andal untuk mempopulerkan dagangan. Untuk itu, dia memastikan tidak mengecawakan pembeli yang mampir ke lapaknya. “Kalau barang tidak asli, kami sampaikan apa adanya. Dan rata-rata pengunjung saat ini juga sangat cerdas untuk memilih barang,” terangnya.

Ruby menjadi jenis batu yang cukup banyak diminati. Batuan alam yang masuk kategori permata ini banyak diburu. Harganya juga fantastis tergantung kualitas warna dan kekerasannya. “Yang harga Rp 2 juta sudah cukup bagus,” sahut Mahmud, rekan Supik.

Setelah Ruby, urutan berikutnya diisi oleh batu bacan. Batu yang identik dengan warna hijau atau biru muda ini juga banyak dicari. Padahal, harganya juga bisa membuat kantong kempis. (hai/c1)

 

 

Editor : Doni Setiawan
#Motif #Bulan Sura #pedagang akik #Bulan Bung Karno #akik