Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Cerita Dewi Ayu Fatmalasari, Guru Tekuni Usaha Kerajinan Buket

Endah Sriwahyuni • Selasa, 5 September 2023 | 06:15 WIB

 

 

DITUNTUT KREATIF: Dewi Ayu Fatmalasari bersama ibu-ibu PKK Desa Karanggondang usai pelatihan membuat buket pekan lalu.
DITUNTUT KREATIF: Dewi Ayu Fatmalasari bersama ibu-ibu PKK Desa Karanggondang usai pelatihan membuat buket pekan lalu.
 

KABUPATEN BLITAR – Nasib orang tidak ada tahu. Begitu juga dengan Dewi Ayu Fatmalasari. Dari yang awalnya buka jasa titipan (jastip) saat duduk di bangku sekolah, kini perlahan menjalani bisnis buket di sela-sela kesibukannya sebagai guru.

Pekerja keras adalah kata yang bisa menggambarkan Dewi Ayu Fatmalasari. Sejak di bangku madrasah tsanawiyah (MTs), warga Desa Kolomayan, Kecamatan Wonodadi, ini sudah berani berjualan. Awalnya, Dewi berjualan nasi goreng. Dia bekerja sama dengan saudaranya dengan mengambil keuntungan sebesar Rp 1.000 hingga Rp 2 ribu per bungkus.

Waktu itu, dia mendapat respons yang positif dari teman-temannya. Usaha itu terus dia lakoni hingga bangku madrasah aliyah (MA). “Ya, mulai masuk MA sambil coba-coba open jastip,” kenangnya ketika ditemui di rumahnya, kemarin (3/9).

Masuk bangku MA, dagangannya berkembang. Dari jualan makanan ringan seperti makaroni, cimol, basreng, sampai tahu kres. Di samping itu, dia juga menerima jastip lain seperti kosmetik, alat -alat kecantikan, jilbab, pakaian, dan lainnya. Apalagi saat itu jarang yang bisa mengoperasikan marketplace online.

Sampai pada akhir 2020 , pandemi Covid-19 menerjang. Jastipnya sempat berhenti. Imbauan PPKM dari pemerintah membuatnya tidak bisa mengambil barang dari reseller. Dia pun harus memutar otak agar tetap mendapatkan penghasilan.

Di saat itu, ada teman yang meminta untuk dibuatkan buket snack. Kebetulan itu musim ujian proposal sebelum ujian skripsi. Dari situ, dia mencoba untuk memulai usaha buket snack. “Pelanggan masih dari teman-teman, terutama pelanggan yang sudah kenal dari usaha jastip itu,” terang perempuan 25 tahun ini.

Bukan hanya buket snack, tetapi juga uang, bunga, jilbab, sampai snack berbentuk kue ulang tahun. Karena pemasaran dilakukan secara online melalui media sosial (medsos), pelanggannya makin bertambah. Tak hanya dari teman dekat di wilayah Wonodadi, tetapi juga daerah lain, Tulungagung.

Menurutnya, menjalankan usaha dari nol tidak selalu berjalan mulus. Banyak tantangan dan pengalaman yang menguras fisik bahkan mental. Seperti menghadapi pelanggan yang banyak mau. Awal usaha pernah membuat pesanan yang kurang sesuai dengan keinginan pelanggan sehingga harus mengubah beberapa bagian. Hal itu membuat keuntungan yang didapat hanya sedikit karena harus mengganti bahan. Bahkan bisa dikatakan hampir merugi.

Selain itu, ada pelanggan pernah membatalkan pesanan di hari H karena barang harus diambil. Alasannya klasik, yakni tidak ada kendaraan untuk mengambil pesanan. Namun, Dewi tetap legawa.

Pasalnya, dia yakin setiap orang ada rezekinya masing-masing. Keuletannya menjalankan usaha tersebut membuat dirinya dipercaya menjadi narasumber pelatihan membuat buket bagi ibu-ibu PKK di Desa Karanggondang, Kecamatan Udanawu. “Itu diminta sama teman buat membantu jadi narasumber di kegiatan pokja ibu-ibu PKK,” jelasnya.

Dewi pun tak menyangka sekaligus bersyukur bisa sampai di titik ini. Berkat usaha kerasnya itu, tahun ini dia mampu membeli kulkas dari hasil jerih payahnya. Keberhasilan itu tak lepas dari doa dan dukungan orang tua serta keluarga. Namun, dia juga tak menampik bahwa kini banyak pesaing. Apalagi, buket merupakan bisnis musiman.

Biasanya pesanan ramai ketika musim wisuda atau hari guru. Ketika momen itu, penjualan buket bisa mencapai 50 buket dalam seminggu. Jika hari-hari biasa untuk hadiah ulang tahun.

Di samping bergelut di dunia usaha, ternyata dia juga disibukkan dengan mengajar di madrasah ibtidaiyah (MI). Profesinya sebagai tenaga pengajar itu merupakan pekerjaan utama. “Sedangkan buket menjadi bisnis sampingan. Saya leluasa melayani pesanan ketika Sabtu dan Minggu. Selebihnya ya curi-curi waktu,” ujarnya lantas tersenyum.

Karena usaha buket sudah banyak ditekuni orang, promosi menjadi hal paling penting agar jualan tetap eksis. Karena itu, promosi harus sering dilakukan. “Karena ini bisnis musiman, jadi harus sering promosi dan mengembangkan variasi buket biar nggak monoton,” pungkasnya. (*/c1/sub)

Editor : Doni Setiawan
#usaha #buket #guru #dagang