Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Peternak Ayam di Blitar Bingung Harga Pakan Masih Melambung

Doni Setiawan • Kamis, 7 September 2023 | 03:00 WIB

 

BELUM STABIL: Stok telur ayam di peternak belum dapat dipasarkan lantaran harga di pasaran masih sangat rendah.
BELUM STABIL: Stok telur ayam di peternak belum dapat dipasarkan lantaran harga di pasaran masih sangat rendah.

KABUPATEN BLITAR – Harga telur ayam di pasaran terus mengalami penurunan dalam sepekan terakhir. Hal ini diperparah dengan naiknya harga pakan ternak. Kondisi tersebut mengancam keberlangsungan produksi telur ayam di Bumi Penataran.

Salah seorang peternak ayam petelur, Yusriana Dewi mengaku, harga telur ayam menyentuh angka Rp 19 ribu per kilogram. Jumlah itu terbilang masih murah. Lantaran harga telur ayam dalam kondisi normal mencapai Rp 24 ribu per kilogram. “Itu harga terbaru di pasaran yang informasinya kami dapat dari pedagang,” jelasnya.

Meski demikian, kondisi ini terbilang lebih baik dari pekan lalu. Harga telur ayam di pasaran sempat merosot hingga Rp 18 ribu per kilogram. Dewi menambahkan, para peternak ayam petelur masih resah. Penyebabnya, harga pakan ternak masih belum juga stabil. “Saat ini harga pakan mencapai Ro 6.400 per kilogram. Itu terhitung sangat mahal.” keluhnya.

Wajar jika kondisi ini sangat dikeluhkan oleh para produsen telur ayam. Jika kondisi tak kunjung membaik, bukan tidak mungkin para produsen di Blitar bakal gulung tikar. Hal ini disebabkan oleh tingginya biaya produksi di masing-masing peternak ayam petelur. “Kalau dibilang rugi itu saat harga jagung naik, sedangkan telur menurun. Apalagi hasil jual telur tidak bisa menutup harga beli jagung. Itu jelas rugi,” tegas Dewi.

Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Kabupaten Blitar Toha Mashuri turut prihatin dengan kondisi saat ini. Meski begitu, dinas tidak bisa berbuat banyak lantaran hal ini di luar kapasitas dinas. “Kewenangan kami tidak sampai mengurus harga di pasaran. Itu di luar tanggung jawab kami. Kami hanya dapat memberikan pelatihan agar hasil produksi optimal,” terangnya.

Dinas juga menerima informasi dari para peternak terkait turunnya harga telur ayam di pasaran. Menurut Toha, penurunan harga ini disebabkan oleh kelebihan stok telur di tingkat peternak. Padahal, permintaan pasar sedang landai. Jelas kondisi ini membuat peternak tidak dapat menjual seluruh stok telur miliknya. “Itu yang membuat akhirnya harga telur jadi sangat anjlok,” sambungnya.

Disinggung soal harga pakan ternak yang terus melambung, dinas bersurat ke Badan Pangan Nasional (Bapanas). Adapun isi surat yang dimaksud adalah soal permintaan ketersediaan jagung dengan harga normal.

Untuk diketahui, pada 2022, ada 4.322 peternak ayam petelur di Kabupaten Blitar. Jumlah itu terus mengalami penurunan dalam setahun belakangan. Informasi teranyar, kini hanya ada sekitar 3.390 peternak ayam petelur di Kabupaten Blitar. Ada sejumlah faktor yang memengaruhi penurunan jumlah peternak. Yaitu, fluktuasi harga telur ayam, pandemi Covid-19, dan kenaikan harga pakan ternak. (mg2/c1/dit)

Editor : Doni Setiawan
#Kabupaten Blitar #harga telur #produksi #Pakan #peternak ayam petelur #disnakkan #peternak #telur