KABUPATEN BLITAR - Setahun mengudara, marketplace yang diinisiasi oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blitar kini tak jelas nasibnya. Pengelolaan yang kurang optimal disebut jadi alasan lokapasar ini mangkrak.
Kepala Bidang Aplikasi Informatika Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Blitar, Asik Fauzi menjelaskan, fungsi utama pembuatan dan pengembangan web ini adalah untuk membantu para pelaku usaha tetap bertahan di masa Covid-19. “Karena dulu Covid-19, mobilitas dibatasi. Pengembangan web ini diharapkan menjadi solusi,” jelasnya.
Fauzi mengaku bahwa aplikasi tersebut dirancang oleh pihak ketiga yang digandeng oleh pemkab. Oleh sebab itu, dinas tidak begitu mendalami teknis operasional pada sistem lokapasar yang dimaksud. Mekanisme jual beli yang terjadi di dalamnya juga tidak dia ketahui. Meski demikian, beberapa kedinasan terlibat membangun platform lokapasar ini.
Beberapa di antaranya yaitu Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Blitar, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kabupaten Blitar, dan Diskominfo Kabupaten Blitar. Dari data yang dikumpulkan oleh disperindag, didapatai ada sekitar 2.000 pelaku usaha. “Data itu oleh DPMD kemudian diakomodasi oleh BUMDes untuk dapat menjalankan gerainya di aplikasi,” papar Fauzi.
Pendataan ini, lajut Fauzi, melibatkan sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) dalam upaya pengumpulan data pelaku usaha secara kolektif. Bahkan, dinas koperasi dan usaha mikro hingga dinas pariwisata juga diliabatkan. “Iya. Banyak dinas yang dimintai data terkait pelaku usaha,” paparnya.
Namun, Fauzi mengaku tidak mengetahui detail jumlah pelaku usaha yang tergabung dalam marketplace alias lokapasar ini. Pasalnya, di sini diskominfo hanya bertindak sebagai pengembang aplikasi dan laman web. “Mengenai itu kami tidak tahu, kami hanya mengembangkan aplikasi dan web,” tutupnya.
Staf Bidang Penataan dan Kerja Sama Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (DPMD) Kabupaten Blitar, Ariska, mengaku tak lagi mengurus operasional lokapasar Mak Online di tahun ini. Di tahun lalu, dia sempat menerima data-data produk. “Tahun lalu memang menangani dan sempat membuat kerangka acuan kerja, tapi tahun ini tidak (pengelolaan, Red). Produk-produk BUMDesma tidak masuk ke Mak online. Tapi hanya ada di e-katalog dan kami tidak tahu apa keduanya terintegrasi,” terangnya.
Perempuan berjilbab ini mengungkapkan, meskipun terlibat pada peluncuran lokapasar di tahun lalu, dia tak terlalu mengetahui bagaimana keberlanjutan operasional Mak Online. “Launching-nya betul di acara kami. Tepatnya pada penutupan bazar Ramadan tahun lalu. Tapi, kami tidak tahu bagaimana kelanjutanya. Setahu kami memang ada tim yang mengurus,” jelas perempuan berkacamata itu. (mg3/c1/dit)
Editor : Doni Setiawan