BLITAR– Kemarau panjang kini membawa berkah bagi sebagian masyarakat di Kabupaten Blitar. Misalnya, para perajin gerabah di Desa Plumpungrejo, Kecamatan Kademangan.
Sayangnya, bahan baku produksi kian langka, saat musim kemarau panjang ini. Sehingga membuat berang dan produksi perajin gerabah tersendat.
Selain bahan baku, tidak hanya perajin gerabah yang dirugikan saat cuaca buruk atau mendung. Para pengepul dan pembeli juga akan gigit jari. Karena tidak ada dagangan yang bisa mereka edarkan atau beli.
“Sekali produksi sampai 100 sampai 150 keping pot bunga. Sekali kirim bisa sampai 4.000 pot. Bersyukur dengan penjualan tersebut, bisa sebagai pengahasilan rumah tangga,” ungkap perajin gerabah, Minhamiril Lutfi.
Meski ramai usaha perajin gerabah yang dijalankanya ini terbilang baru. Terhitung lima tahun menjadi perajin, namun permintaan yang datang padanya sudah sangat banyak.
Semula kerajinannya hanya sebatas pot bunga. Komoditas yang sewaktu pandemi permintaannya melambung. Sebab ketika itu rata-rata berdiam diri di rumah untuk merawat bunga.
Hal itu dia kerjakan setelah meninggalkan pekerjaan sebelumnya sebagai tukang bangunan. Berjalanya waktu, permintaan semakin banyak. Hingga kini tetap stabil.
Tidak hanya pot bunga, kini dia juga mengerjakan berbagai pesanan. Mulai dari alat masak, patung aksesori, dan suvenir. Itu artinya pesanan semakin beragam tergantung dari selera konsumen.
Dari banyaknya permintaan, kadang tenaganya tidak mampu untuk menyediakan barang bagi konsumennya.
“Konsumen biasanya memberi tahu saya produk yang sedang ramai, lalu saya bikinkan, dan dari situ produk saya semakin banyak. Permintaannya pun juga semakin banyak,” paparnya.
Dalam sebulan ini saja, dia sudah harus bolak-balik melakukan pengiriman secara mandiri. Permintaan peralatan yang terbuat dari tanah liat ini semakin banyak. Maka bisa dikatakan sibuk untuk memenuhi permintaan dari para pembali di lokal maupun luar kota.
Pesatnya permintaan kerajinan ini menjadikan kebutuhan sumber daya yang juga naik. Tanah liat sebagai bahan baku utama menjadi semakin langka dan habis.
(mg3/c1/hai)
Editor : Didin Cahya Firmansyah