KOTA BLITAR – Dampak kemarau membuat sejumlah debit air sungai dan sumur masyarakat Kota Blitar menyusut.
Indikasinya, beberapa sungai di Kota Blitar mulai mengering. Seperti sungai di area persawahan Kelurahan Blitar, Kecamatan Sukorejo. Biasanya, air sungai selalu mengalir. Air tersebut dimanfaatkan petani untuk pengairan lahan persawahannya. “Sedangkan kalau sumur warga, mungkin kecepatan aliran air sedikit lambat,” ungkap Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Blitar, Supriyadi, kemarin (12/9).
Sebelumnya, Kota Blitar masuk kategori status siaga kekeringan. Namun, belum ada laporan dari masyarakat yang mengeluhkan kesulitan air. BPBD juga telah melakukan asesmen di beberapa titik.
Berdasarkan pantauan sementara memang terjadi penurunan debit air. Untuk mengantisipasi ancaman kekeringan, BPBD berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Blitar dan perusahaan daerah air minum (PDAM) untuk menyuplai air bersih kepada masyarakat. Itu dilakukan ketika ada laporan kesulitan air bersih.
Meski hanya terdapat tiga kecamatan, jelas dia, semua berpotensi mengalami kekeringan. Sebab, faktor alam tidak bisa diprediksi. Dengan begitu, BPBD mengimbau kepada masyarakat untuk menggunakan air dengan bijak. “Harus diperhatikan penggunaan air untuk kebutuhan sehari-hari. Menggunakan air secukupnya,” imbuhnya.
Musim kemarau diprediksi berlangsung hingga Oktober. Selain menghemat penggunaan air, produksi pertanian juga harus diperhatikan. Misalnya, dengan menyesuaikan tanaman yang cocok di musim kemarau sehingga tidak membutuhkan banyak air. “Apalagi, debit air sungai yang berkurang di sejumlah wilayah,” ujarnya.
Sebelumnya, kesulitan air pernah terjadi di sejumlah wilayah Kota Blitar. Yakni, di Kelurahan Ngadirejo, Kelurahan Bendo, Kelurahan Sentul, Kelurahan Tanggung, Kelurahan Gedog, Kelurahan Pakunden, dan Kelurahan Tanjungsari. Saat itu, kondisi sumur warga kering. BPBD bersama PDAM langsung bergerak menyuplai air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. (mg1/c1/sub)
Editor : Doni Setiawan