BLITAR – Cuaca ekstrim yang terjadi di wilayah Bumi Bung Karno dalam beberapa waktu belakangan berdampak pada sektor perikanan. Berkurangnya air tanah menyebabkan para pembudi daya ikan kesulitan memenuhi kebutuhan baku air bersih. Buntutnya, produksi ikan hias tahun ini diprediksi bakal seret.
Kepala Bidang Perikanan Budidaya, Dinas Perikanan dan Peternakan (Disnakkan) Kabupaten Blitar, Agus Winardi mengatakan, kondisi ini memang dikeluhkan oleh para pembudi daya. Terlebih, dinas juga belum dapat memastikan kapan kondisi ini bakal berlalu.
"Selama periode kemarau ini pembudidaya ikan di Blitar harus berjibaku dengan anomali alam," jelasnya.
Musim kemarau berkepanjangan seperti yang saat ini terjadi memang membikin penurunan jumlah air tanah. Padahal, air bersih merupakan salah atu bahan baku dalam proses produksi ikan hias.
Agus menambahkan, kondisi ini memaksa para pembudi daya memanfaatkan air sungai untuk memenuhi kebutuhan air.
Padahal, pemanfaatan air sungai untuk keperluan budi daya ikan hias juga masih terbilang “abu-abu”. Pasalnya, ada kemungkinan air sungai mengandung senyawa yang berbahaya bagi ikan.
Bahkan, dikhawatirkan hal ini bisa membuat ikan keracunan lantas mati. Kemungkinan terburuk, pembudi daya bisa mengalami gagal panen.
"Hal ini juga sebetulnya harus diwaspadai mengingat kondisi perairan kami juga tidak sehat. Salah-salah bisa membuat ikan keracunan bahkan mati" ungkapnya. (mg3/dit)
Editor : Aditya Yuda Setya Putra