BLITAR - Tanaman palawija menjadi pilihan petani untuk bercocok tanam di musim kemarau ini. Meski cocok di tengah kemarau, beberapa di antaranya ada yang rentan terserang hama.
Selain faktor kekeringan, serangan hama juga menjadi tantangan petani saat musim kemarau. Sejumlah jenis hama yang mengancam seperti kutu daun, ulat, dan serangga penghisap.
Hama tersebut sering kali lebih aktif dalam suhu yang hangat. Selain itu, virus, jamur, maupun bakteri juga rentan menyerang.
Salah satu tanaman yang paling rentan adalah cabai. Meski tahan dengan musim kemarau, cabai masih membutuhkan kelembapan yang cukup dan kondisi tanah yang lembap agar cabai yang dihasilkan optimal. Tanaman cabai rentan terjadi layu fusarium.
"Cirinya, daun menjadi keriting dan kekuning-kuningan," jelas Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Blitar, Dian Lukitasari.
Sementara pada cabai, lanjut Dian, akan terserang antranoksa atau patek. Yakni, buah yang membusuk dan mengering kecokelatan. Kondisi ini bisa cepat menyebar ke tanaman lain. Jika sudah parah, tanaman bisa layu dan mati.
Selain cabai, jagung dan padi juga cukup rentan terserang hama. Jagung biasanya terkena penyakit bulai. Itu ditandai dengan daun berwarna kuning keputih-putihan.
Tanaman jagung yang terinfeksi akan mengalami gangguan dalam pertumbuhanya. "Tanaman akan kerdil hingga tidak mampu berproduksi sama sekali," jelas perempuan ramah ini.
Sedangkan pada padi, jelas dia, terkena serangan burung. Apalagi, seperti diketahui, di Kota Blitar hanya ada satu petani yang menanam padi.
Karena bukan musim tanam serentak, burung akan sering datang untuk mencari makan.
Namun, menurut Dian, petani sudah menyadari risiko ketika bertanam di musim kemarau. Kendati begitu, pemberantasan hama bisa dilakukan dengan bahan-bahan organic sehingga lebih aman untuk tanaman maupun lahan pertanian itu sendiri.
Untuk diketahui, petani di Kota Blitar sudah dibekali dengan pengetahuan pembuatan pupuk organik dari kotoran ternak.
Dengan demikian, bisa mengurangi penggunaan bahan kimia yang bisa merusak lahan dan tanaman. "Hampir semua petani bisa produksi pupuk organik, jadi lebih aman daripada pupuk kimia," tandasnya. (mg1/c1/sub)
Editor : Didin Cahya Firmansyah