BLITAR – Sektor perikanan Blitar yang dikenal Bumi Penataran ini kini menghadapi sejumlah tantangan.
Salah satunya perikanan Blitar ketergantungan terhadap penggunaan air tanah.
Hal itu bisa menjadi persoalan perikanan Blitar, terutama saat kemarau panjang seperti saat ini.
Kepala Bidang ikan budi daya dinas peternakan dan perikanan, Agus Winardi mengatakan, kurangnya mutu air permukaan di wilayahnya menjadi faktor utama penggunaan air tanah.
"Di wilayah Blitar, hampir semua pembudi daya menggunakan air tanah. Kecuali di beberapa daerah seperti di Sumberingin. Mereka masih menggunakan air permukaan karena berasal dari sumber air langsung," katanya.
Penggunaan air tanah untuk budi daya, menurutnya, sudah ideal. Mengingat, mineral yang terdapat di dalamnya bermanfaat bagi ikan.
"Air yang cocok memang air tanah, karena bagus. Kalau air sungai dan air hujan itu tidak ada manfaatnya. Kandungan mineralnya nol," Jelasnya.
Lebih lanjut, Agus juga menjelaskan bahwa kondisi ketergantungan ini juga diakibatkan buruknya pengolahan lingkungan. Limbah rumah tangga dan sampah plastik jadi faktor utama rusaknya air.
"Biasanya karena limbah sawah, seperti pestisida. Namun paling utama, limbah rumah tangga dan sampah yang tak terolah dibuang ke sungai," ujarnya.
Baca Juga: Tebar Benih Ikan Di Kota, Romy Soekarno Jadi Bapak Asuh Penangkaran Burung Hantu Blitar Raya
Meskipun sudah ada teknologi mengenai pengolahan air limbah, dia masih pesismistis. Sebab, belum banyak masyarakat yang mengaplikasikan teknologi tersebut.
"Sebagian sebetulnya sudah ada yang menggunakan bioflok, tapi penggunaanya pada sektor ikan konsumsi. Bahkan, beberapa ikan konsumsi dipelihara di bawah kandang ayam. Hal ini sebetulnya dilarang karena dapat menimbulkan penyakit pada ikan dan manusia," jelasnya.
Editor : Didin Cahya Firmansyah