BLITAR - Sampah plastik masih menjadi permasalah di Bumi Penataran. Tiga tempat pembuangan akhir (TPA) yang ada di Bumi Penataran hampir tidak mampu menampung sampah masyarakat.
Bahkan diprediksi, ketiga TPA tersebut penuh sekitar 2 sampai 3 tahun ke depan.
Kepala Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkingan Hidup (P3KLH), Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Blitar, Zainal Qolis mengatakan, tidak mudah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah.
Untuk itu, nyaris tidak mungkin untuk menghilangkan sampah plastik di Kabupaten Blitar.
“Bukan tidak mungkin, tapi jelas sulit. Mengingat masyarakat yang masih tergantung dengan kantong plastik,” ujar pria 55 tahun itu.
Selama ini, dia hanya bisa berkoordinasi dan berkaloborasi dengan pihak-pihak terkait.
Seperti OPD dan minimarket. Langkah ini masih terbilang minim, mengingat masih maraknya masyarakat yang enggan untuk membawa kantong sendiri.
“Bahan-bahan yang terbuat dari plastik itu akan berbahaya jika dibuang sembarangan. Makanya plastik perlu perlakuan khusus, tidak bisa dicampur dengan sampah lain. Apalagi, plastik itu merupakan produk yang akan terurai ratusan tahun,” ujarnya.
Menurut dia, masih maraknya masyarakat yang membuang plastik sembarangan berdampak pada struktur tanah.
Akibatnya, pertumbuhan tanaman menjadi terlambat karena terganggu, atau unsur tanah dipenuhi limbah yang sulit terurai.
“Ya, akar dari tumbuhan itu akan sulit menancap ke tanah. Terhalang oleh plastik yang mempunyai sifat elastis. Apalagi, partikel-partikel plastik yang kecil itu akan semakin bahaya jika masuk ke dalam tubuh,” terangya.
Sebanarnya, sambung Zainal, plastik masih bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan pundi-pundi uang. Namun dengan syarat harus ada pemilahan sejak awal. Dengan begitu, tidak tercampur dengan sampah lain.
Baca Juga: Belum Dioperasionalkan, Akses Jalan Paving TPA Panggul Trenggalek sudah Berantakan“Maka dari itu, perlu pilah sampah dari sumbernya. Entah dari sampah keluarga ataupun sampah pasar,” lanjutnya.
Sejauh ini, ada beberpa pihak yang sudah mendaur ulang sampah platik. Seperti yang terjadi di wilayah Kademangan, yang mengubah sampah plastik menjadi produk olahan berupa tali rafia.
Selain itu, plastik juga bisa diolah kembali dan menjadi serpihan kecil-kecil yang biasa disebut bubur plastik.
“Namun, semua itu akan bisa bersih dan lebih baik jika masyarakat sadar betul akan bahaya plastik. Itu tergantung mindset masyarakat, mau memisah atau tidak. Harus ada kesadaran dari masyarakat biar pengolahan selanjutnya akan lebih mudah dan sedikit sampah yang terbuang ke TPA,” tegasnya.
Editor : Didin Cahya Firmansyah