BLITAR - Di balik motifnya yang unik, batik Jagadjowo asal Desa Tlogo, Kecamatan Kanigoro, ini punya makna filosofi mendalam. Menurut si pembuat, Eni Setiawati, keberadaan batik ini tak lain sebagai literasi bagi masyarakat lokal, khususnya kaum muda.
Eni mengungkapkan, produksi batik dimulai pada 2012 lalu. Keinginan ini muncul usai dia menjadi salah satu peserta dalam kelompok membatik PKK di lingkungannya.
Meski mengaku sempat melakoni usaha bordir kain, tetapi kecintaannya pada seni membuatnya beralih untuk menekuni usaha batik.
"Sejak ikut kelompok batik ibu PKK itu, akhirnya saya menekuni kerajinan batik sampai sekarang, dan menjadi sumber penghasilan," kata dia.
Disinggung soal motif, perempuan ramah ini mengatakan, batik Jagadjowo punya hubungan erat dengan nilai sosial-budaya Blitar. Itulah mengapa dia banyak memunculkan motif dengan nuansa literasi seni dan sejarah.
“Itu yang saya harapkan bisa membumi untuk menjadi sumber literasi bagi generasi muda,” tegas Eni.
Bukan hanya memasukkan unsur-unsur filosofis, Eni juga memasukkan unsur alam dan budaya dalam goresan batik miliknya. Misal, hewan, tumbuhan, hingga ikon Kabupaten Blitar, Candi Penataran. Dia berharap hal ini bisa menambahkan kesan historis dalam batik miliknya.
“Saya menilai anak-anak sekarang kurang mengetahui sejarah yang ada di tempat kelahirannya. Maka dari itu, dengan batik yang saya buat ini, nantinya dapat menarik rasa penasaran dengan sejarah. Sehingga tidak sekadar fashion saja,” terang Eni sembari menunjukkan karyanya.
Adapun harga kain batik dipatok beragam. Batik cap berada di angka Rp 100-250 ribu. Batik kombinasi dibanderol seharga Rp 300-500 ribu. Kemudian, batik tulis dibanderol sekitar Rp 500 hingga Rp 2 juta per kain.
“Untuk peminatnya kebanyakan dari lokal Blitar saja. Kalau luar kota ada beberapa daerah di Jawa Barat yang sudah langganan. Bahkan, ada pemesan batik dari Hong Kong. Itu yang membuat saya senang karena produk ini dikenal luas,” tutur Eni.
Baca Juga: Batik Khas Blitar Ini Jadi Langganan Malaysia hingga Rusia, Apa Keunikannya?
“Motif merak pada batik tutur menunjukkan sebuah kesombongan. Lalu, motif singa pada batik tutur melambangkan sebuah kekuasan. Itu semua penuh dengan nilai filosofi,” pungkasnya. (jar/c1/dit)
Editor : Aditya Yuda Setya Putra