Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Cegah Bullying Pada Anak, Komunitas SAPUAN Blitar Beri Penjelasan Tentang Pola Asuh yang Baik

Mila Inka Dewi • Rabu, 4 Oktober 2023 | 17:00 WIB
Titim Fatmawati, Pendiri komunitas SAPUAN Blitar
Titim Fatmawati, Pendiri komunitas SAPUAN Blitar

BLITAR - Keluarga menjadi tempat pertama bagi anak untuk bertumbuh, berkembang, dan belajar menjalani kehidupan. Pola asuh yang baik bisa menekan risiko perundungan pada anak.

Maka dari itu, orang tua (ortu) atau orang dewasa harus bisa menjadi role model yang baik bagi anak-anak. Hal itu menentukan bagaimana anak akan bersikap dalam kehidupan sehari-hari.

"Jika keluarga tidak memberikan contoh yang baik, jangan salahkan anak jika mereka melakukan hal yang sama. Sebab, anak adalah peniru yang ulung," ujar pemerhati anak dan perempuan, Titim Fatmawati, saat ditemui Jawa Pos Radar Blitar, Rabu (4/10/2023).

Titim mengungkapkan, pelaku bullying atau perundungan bisa juga berasal dari korban bullying. Biasanya lantaran mereka mempunyai masa lalu yang kurang baik. Ada luka masa kecil yang belum sembuh dan tidak mendapat penanganan yang tepat sehingga dilampiaskan dengan menyakiti orang lain.

Jika anak merasa tersisihkan dari suatu circle pertemanan, anak akan mencari lingkungan pertemanan baru yang bisa menerima mereka. Meskipun harus melakukan tindakan yang tidak baik, seperti halnya mencuri atau melakukan perundungan kepada temannya.

Maka dari itu, lanjut Titim, keluarga mempunyai peran yang begitu penting. Apa yang dilakukan orang tua harus bisa menjadi contoh yang baik untuk anak. Sikap yang baik bukan hanya berlaku untuk anak, melainkan bagaimana cara pasangan suami istri (pasutri) memperlakukan satu sama lain.

"Ketika anak melihat dan merasakan ada cinta kasih di dalam keluarga, kemungkinan anak menjadi korban maupun pelaku bullying menjadi berkurang," tutur perempuan berjilbab ini.

Ibu dua anak ini juga menuturkan bahwa tidak ada teori atau rumus khusus untuk membentuk pola asuh yang baik. Kuncinya harus ada kasih sayang dalam keluarga. Orang tua tidak bisa semata-mata menyuruh anak melakukan apa yang mereka mau. Sebab, anak tidak belajar dari apa yang dikatakan, tetapi apa yang dicontohkan.

"Anak bukan miniatur orang tua yang harus memenuhi keinginan yang tidak bisa mereka dapatkan," ujar pendiri komunitas Sahabat Perempuan dan Anak (SAPUAN) ini.

Menurut dia, penting membentuk komunikasi yang baik dengan keluarga. Misalnya, ketika anak pulang sekolah menanyakan kegiatan apa saja yang sudah dilakukan. Jangan selalu menanyakan pelajaran atau nilai tanpa mengetahui apa yang telah anak lalui seharian di sekolah.

Ketika ortu bisa menjadi sahabat yang baik untuk anak, mereka akan menjadi terbuka dan bercerita tanpa diminta. Itu bisa sebagai bentuk kasih sayang dan support kepada anak.  

Namun, Titim juga menegaskan bahwa jika anak memang berbuat salah juga harus disalahkan. Jangan selalu membela anak jika mereka benar-benar melakukan tindakan yang kurang baik. Hal itu sebagai bentuk punishment.

Orang tua cenderung membela anak ketika berbuat kesalahan. Dengan anggapan, bahwa hal itu sebagai sebuah bercandaan dan lumrah terjadi di usia anak-anak. Jika begitu, anak-anak tidak akan menyadari kesalahan mereka.

"Sehingga, anak akan berani mengulang perbuatan yang sama karena selalu mendapat pembelaan dari orang tua," pungkasnya. (ink/c1/sub)

Editor : M. Subchan Abdullah
#Titim Fatmawati #kasus bullying #cegah bullying #bullying anak #Bullying Blitar #Komunitas SAPUAN Blitar