BLITAR – Dampak kekeringan di Kabupaten Blitar kian meluas. Total tiga desa sudah merasakan dampak cuaca ekstrim yang terjadi sejak beberapa bulan terakhir ini. Jumlah ini bisa bertambah, mengingat musim kemarau diprediksi masih akan berlangsung.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Blitar Ivong Bettryanto mengatakan, sebelumnya hanya Desa Tugurejo, Kecamatan Wates, yang dilakukan dropping air lantaran terdampak kekeringan.
Jumlah itu meningkat menjadi tiga desa begitu BPBD Kabupaten Blitar menerima laporan bahwa Desa Sukorejo, Kecamatan Wates dan Desa Sumberkembar, Kecamatan Binangun juga mengalami kekeringan.
“Pada Desa Tugurejo ada 215 kepala keluarga (KK) dari 4 RT/RW. Untuk Desa Sukorejo sasarannya ada sekitar 138 KK pada 2 dusun dan 3 RT/RW. Sedangkan untuk Desa Sumberkembar sasaran ada 295 KK, pada 2 dusun dan 4 RT/RW yang dilakukan dropping air,” ujar Ivong Kamis (5/10/2023).
Dia melanjutkan, dropping air dilakukan setiap hari dengan mengandalkan tiga truk tangki yang membawa 6.000 liter air bersih pada tiga desa. Di lokasi, tak sedikit warga yang mengantre agar mendapat jatah air bersih dari BPBD.
Ivong menyebut kondisi secara geografis di tiga desa itu memang berada daerah pegunungan kapur. Sehingga dengan kondisi kemarau Panjang. Itu membuat debit air menurun secara drastic. Sebenarnya pipanisasi pada daerah tersebut sudah ada dan normal, namun sumber air yang dimanfaatkan mengalami penurunan debit.
“Untuk inovasi teknologi untuk mengatasi bencana kekeringan ini bukan kewenangan kami. Setahu saya, upaya warga sudah luar biasa selain dropping air ini. Contohnya, kami beberapa hari yang lalu menerima laporan bantuan pengeboran sumur di Desa Ngadipuro Kecamatan Wonotirto,” terangnya.
Ivong berharap dengan upaya yang sudah dilakukan agar kekeringan ini tidak meluas lagi. Memang Kecamatan Wonotirto telah memiman bantuan untuk pengeboran sumur. Beruntung wilayah ini tidak mengalam ikekeringan.
Untuk diketahui, sejak Agustus BPBD Kabupaten Blitar telah melakukan dropping air bersih ke empat RT di Desa Tugurejo Kecamatan Wates. Mereka melakukan dropping air bersih ini kepada 215 keluarga yang terdampak kekeringan.
Koordinasi antara BPD dan pemdes setempat terus dilakukan. Itu agar pemdes dapat terus memonitor kondisi terkini para warga. Jika hasil monitoring menunjukkan adanya peningkatan jumlah warga terdampak, bukan tidak mungkin BPBD bakal meningkatkan jumlah air bersih yang di-dropping.
“Kami terus berkoordinasi dengan pemdes setempat untuk update data warga yang mulai terdampak kekeringan agar mendapat dropping air bersih,” pungkasnya. (jar/dit)
Editor : Didin Cahya Firmansyah