BLITAR – Seorang lansia berusia 70 tahun tiba-tiba meninggal dunia di dalam shelter milik Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Blitar. Tepatnya di jalan Raya Garum.
Ternyata dia mengidap penyakit stroke dan sudah dua kali dirawat di RSUD Ngudi Waluyo. Namun setelah sembuh dan dibawa kembali ke shelter, ternyata tidak bertahan lama dan meninggal dunia.
Kapolsek Garum Iptu Punjung Setyo mengatakan bahwa jenazah laki-laki itu merupakan tunawisma.
Dia ditemukan meninggal dunia sekitar pukul 08.00 WIB saat petugas akan memberikan sarapan pagi. Dia menghubi shelter dinsos kurang lebih sekitar 2 minggu.
“Awalnya lansia tersebut terlantar di Desa Ngembul Kecamatan Binangun. Kemudian oleh pihak desa dan Dinsos Kabupaten Blitar pria tersebut dibawa ke salter," katanya.
Saat pertama kali dibawa ke Shalter kondisi lansia itu sakit dan sebelumnya dirawat di rumah sakit,” imbuh Punjung ditemui di lokasi.
Lansia itu sempat dilarikan ke RSUD Ngudi Waluyo Wlingi untuk menjalani perawatan. Kondisi lansia itupun kemudian membaik dan diizinkan untuk dibawa ke Shelter Dinsos Kabupaten Blitar.
Kemudian, penyakit pria tanpa identitas itu kembali kambuh dan dirujuk ke rumah sakit. Setelah membaik pria itu dikembalikan ke Shelter, 9 hari kemudian lansia berusia 70 tahun itu meninggal dunia.
Saat kejadian kemarin, Tim inafis Polres Blitar yang tiba di lokasi langsung melakukan pemeriksaan kepada jenazah lansia tersebut.
Hasilnya tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan dan juga tidak ditemukan identitas. Saat dilakukan sidik jari, identitas lansia ini juga tidak terbaca.
Hal itu terjadi lantaran sejak awal, lansia itu memang terlantar dan hidup di jalanan Desa Ngembul.
“Dia hidup di Jalanan dan tidak memiliki rumah. Dinsos menghubungi pihak Desa Ngembul dan dilakukan penjemputan. Ketika dijemput, Kepala Desa Ngembul mengatakan lansia itu sering dipanggi Pak Yanto,” tegas Kapolsek Garum.
Sementara itu, Kepala Desa Ngembul Pitoyo mengatakan bahwa Yanto ini telah ditemukan hidup di jalanan Desa Ngembul sejak 5 tahun yang lalu.
Sebelumnya Yanto masih bisa merawat diri, dengan mandi dan sering diberikan makan oleh warga sekitar.
“Namun karena sering tidur di jalanan dan kondisinya lemah, akhirnya kami bawa ke shelter dinsos,” pungkasnya.
Editor : Aditya Yuda Setya Putra