BLITAR - Meningkatnya kasus penyakit tidak menular (PTM) secara signifikan, meningkatkan beban masyarakat dan pemerintah karena membutuhkan waktu, biaya, dan teknologi dalam penanganannya. Upaya preventif yang dilakukan terdiri dari primer dan sekunder.
PTM adalah sebuah penyakit yang tidak mengalami proses pemindahan dari orang lain, tetapi menjadi penyebab kematian paling banyak bagi masyarakat. Sejumlah 73 persen kematian saat ini disebabkan oleh PTM. Sebanyak 35 persen di antaranya karena penyakit jantung dan pembuluh darah. Lalu, 12 persen oleh penyakit kanker, 6 persen oleh penyakit pernapasan kronis, 6 persen karena diabetes, dan 15 persen disebabkan oleh PTM lainnya (data WHO, 2018).
Tujuan kegiatan ini dalam Indikator Kegiatan Utama (IKU) pengabdian kepada masyarakat (Pengabmas) yaitu ≥ 30 persen. Pengabmas merupakan upaya pemberdayaan masyarakat. Dalam kegiatan ini, ada pemberdayaan masyarakat, serta kolaborasi pelayanan kesehatan, pemerintah daerah dengan perguruan tinggi sehingga dapat memberikan kontribusi yang signifikan dalam pencegahan dan pengendalian PTM. IKU pengabdian masyarakat melibatkan mahasiswa dalam kegiatan Pengabmas oleh dosen (80 persen dari jumlah pengabdian dosen) sesuai dengan keahlian masing-masing.
Metode dalam kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat alias Adimas ini antara lain skrining kesehatan, pendidikan kesehatan tentang PTM, melakukan kunjungan rumah bentuk aplikasi program PIS-PK, dan melakukan olahraga bersama. Skrining kesehatan antara lain status nutrisi, tekanan darah, kadar gula darah, kolesterol dan asam urat. Kemudian, pendidikan kesehatan dengan materi pencegahan dan perawatan PTM, perawatan pada penderita PTM di rumah, pemanfaatan tanaman obat keluarga (toga) untuk PTM baik preventif maupun kuratif.
Ketua kegiatan Adimas, Ning Arti Wulandari MKepNs dari STIKes Patria Husada Blitar, beranggotakan Agus Priyanto SKM MPd (dari STIKes Ganesha Husada Kediri) dan Thatit Nurmawati SSi MKes (STIKes Patria Husada Blitar). Pelaksanaan pendidikan kesehatan dibantu oleh dokter spesialis dalam yaitu dr Rina Yulimawati SpPd (RSUD Ngudi Waluyo), khususnya terkait penanganan penyakit hipertensi. Karena dari PTM yang pernah ditanganinya selama bertugas paling banyak adalah kasus hipertensi. Selain itu, hipertensi banyak menyebabkan komplikasi.
Kegiatan ini melibatkan dua mahasiswa yang saat ini sedang menempuh semester 7 dan akan direkognisi dalam mata kuliah sesuai panduan MBKM di STIKes Patria Husada Blitar. Kegiatan Adimas didanai oleh Kemenristekdikbud tahun anggaran 2023, yang dilakukan mulai bulan Juli sampai dengan Oktober 2023 di Kelurahan Tanjungsari, Kecamatan Sukorejo, Kota Blitar, dan bermitra dengan kelompok PKK RT 03/RW 02.
Hasil kegiatan skrining adalah dari 42 anggota kelompok PKK yang mengikuti skrining kesehatan didapatkan 26 persen prahipertensi; 31 persen menderita hipertensi stadium 1 dan 14 persen hipertensi stadium 2; 42,9 persen memiliki kadar kolesterol cenderung tinggi; 31 persen memiliki kadar asam urat yang tinggi; 95,2 persen kadar gula darah acaknya normal, yang didukung dengan hasil skrining melalui aplikasi SEDAB, sebagian besar tidak menunjukan adanya kecenderungan menderita diabetes melitus.
Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular memiliki beberapa program dalam penanggulangan PTM, yang salah satunya adalah POSBINDU. Di lingkungan mitra sebenarnya juga sudah ada POSBINDU yang dilaksanakan setiap satu bulan sekali, tetapi masih banyak anggota mitra yang tidak datang ke POSBINDU dengan alasan sibuk dan takut jika kondisi kesehatannya terdeksi tidak normal. Pengabdi akan menyerahkan alat cek gula darah, alat cek asam urat, alat cek kolesterol, tensimeter, timbangan, dan alat pengukur tinggi badan digital kepada ibu ketua kelompok PKK RT 03 RW 02, untuk menjadi inventaris kelompok tersebut dengan harapan bisa menggunakannya saat kegiatan PPK RT yang diadakan setiap satu bulan sekali. Dengan termonitornya indikator kesehatan anggota kelompok PKK tersebut akan meminimalkan terjadinya PTM dan komplikasi PTM.
Hasil kegiatan pendidikan kesehatan tentang PTM menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan pada kelompok mitra setelah kegiatan tersebut. Mengaplikasikan transformasi kesehatan pelayanan primer dengan memberikan edukasi kesehatan tentang pencegahan dan perawatan PTM, dengan pendekatan teori HPM (health promotions models) guna meningkatkan perilaku hidup sehat kelompok mitra sehingga dapat meningkatkan sikap, self efficacy, dan persepsi dalam perilaku hidup sehat. Jika persepsi mitra dalam hidup sehat meningkat, maka akan berpengaruh pada peningkatan perilaku hidup sehatnya.
Seluruh kelompok merupakan ibu rumah tangga yang berperan penting dalam meningkatkan kesehatan keluarga. Jika pengetahuan tentang perilaku hidup sehat dalam mencegah PTM meningkat, ibu akan mengaplikasikan dalam tatanan keluarga sehingga derajat kesehatan keluarga meningkat. Hal itu dapat dinilai berdasarkan indeks kesehatan keluarga.
Saran untuk dinas kesehatan setempat, hendaknya melakukan edukasi secara konsisten dengan sasaran bukan hanya di kegiatan POSBINDU, melainkan juga kegiatan yang melibatkan banyak sasaran penerima informasi. Seperti kegiatan PKK RT, pengurus RT dan RW harus tetap konsisten dalam melakukan kegiatan olahraga secara rutin di wilayahnya serta terus memberikan motivasi kepada masyarakatnya untuk mengikuti olahraga rutin. Serta diharapkan anggota kelompok mitra dapat memanfaatkan alat skrining kesehatan yang disediakan untuk melakukan cek kesehatan secara berkalan. Minimal satu bulan sekali dalam kegiatan PKK RT. (*)
Editor : Doni Setiawan