BLITAR - Memilki kecintaan terhadap kain Nusantara, membuat Gading Ma selalu berkain dalam menjalankan kegiatan sehari-sehari. Bahkan ketika beraktivitas di ruang publik atau sekadar berkumpul dengan teman-temannya.
Sudah 4 tahun terakhir, berbagai kain wastra menjadi bagian dari style berbusana Gading Ma. Mulai dari batik, tenun, jumputan, songket, dan masih banyak lagi. Tak hanya dipadukan ketika acara tertentu, tetapi juga dalam berbusana sehari-hari. Pun tak jarang ketika beraktivitas di kampus.
Sebelumnya, Warga Desa Sumberjo, Kecamatan Sanankulon ini juga tergabung dalam komunitas Pemuda Berkain ketika kuliah di Surabaya. Namun, jauh sebelum itu memang sudah memiliki ketertarikan dengan berwastra. “Sebelum gabung komunitas memang sering berwastra dalam beberapa kesempatan. Kalau sekarang ya setiap hari berwastra,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Blitar, kemarin (12/10).
Ketika pulang dari perantauan, dia bertemu dengan salah satu teman yang memiliki hobi serupa. Dengan begitu, ada keinginan untuk mengenalkan budaya berkain atau bewastra khususnya untuk masyarakat Blitar. Lalu, pada 26 Januari 2022, mereka sepakat untuk membentuk komunitas Patria Wastra, gerakan pemuda berkain.
Menurut dia, masyarakat Blitar masih cukup asing dengan tren berwastra. Tidak seperti di kota-kota besar, seperti Jakarta maupun Bekasi. Di sana, anak-anak muda terbiasa dengan berwastra. Bahkan, ketika hangout atau nongkrong dengan teman.
Hal itu tentu menjadi tantangan tersendiri baginya dan komunitas Patria Wastra untuk mengenalkan tren berwastra. Masih ada sebagian masyarakat Blitar yang belum berwastra karena dianggap sebagai suatu hal yang berbeda. Namun, tak jarang ada yang memuji karena bagus dan unik.
Ada sebagian orang, lanjut Gading, yang menganggap bahwa berwastra hanya ketika kondangan dan harus digunakan sesuai pakem. Seperti, memakai blangko dan sandal slop Jawa. Justru itu yang membuat anak-anak muda enggan untuk mencoba berwastra.
Padahal, wastra bisa dipadukan dengan berbagai tren fashion. “Bisa dikemas secara apik dan disesuaikan dengan tren yang relevan saat ini,” tuturnya. Dengan begitu, sejumlah kegiatan dilakukan untuk mengenalkan tren berwastra kepada masyarakat khususnya anak muda. Seperti berkain ketika beraktivitas di luar rumah dan nongkrong dengan teman.
Sementara itu, komunitas juga mengadakan kegiatan untuk menggelorakan gerakan berkain. Gading pun berkolaborasi dengan komunitas lain. Adapun kegiatannya seperti workshop membuat batik, talk show, hingga sharing tentang jenis-jenis wastra dengan sesama pencinta kain. “Kami juga sering live Instagram dengan narasumber dari komunitas atau orang-orang yang hobi berkain,” paparnya.
Pria ramah ini memberikan contoh padu padan wastra yang bisa dicoba untuk anak muda. Misalnya, dipadukan dengan memakai sneakers, rompi, kemeja, atau kaus. Memakai kaus dan bawahan kain bisa menjadi bentuk wastra yang simpel.
Nah, tips bagi pemula yang ingin mencoba untuk berwastra yakni harus percaya diri. Memakai kain sesuai dengan style masing-masing dan jangan takut untuk salah. “Kalau suka sama motif batiknya, ya pakai saja keluar. Kalau belum berani sendiri, bisa ajak teman. Intinya harus pede dulu,” pungkasnya. (*/c1/sub)
Editor : Doni Setiawan