BLITAR - Tindakan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) sering kali dianggap sebagai cobaan dalam rumah tangga sehingga sering disepelekan. Tanpa disadari, hal tersebut juga akan memberikan dampak bagi kesehatan mental.
Sejatinya, pria maupun perempuan sama-sama berisiko mengalami KDRT. Namun, mayoritas perempuan rentan menjadi korban KDRT. Hal itu tak lepas dari adanya unsur patriarki dalam suatu hubungan.
"Sehingga laki-laki dianggap sebagai pemilik kuasa di dalam rumah tangga," ujar psikolog Shakiyyatus Sadiyyah kepada Jawa Pos Radar Blitar, kemarin (13/10/2023).
Kiki -sapaannya- menjelaskan, tindakan KDRT memberikan dampak jangka pendek dan jangka panjang yang memengaruhi kesehatan mental korban. Dampak jangka pendek bagi otak dan tubuh di antaranya gangguan kecemasan, merasa malu, perasaan takut, merasa tidak punya harapan, sering menangis, dan mood swing atau suasana hati yang sering berubah.
Dampak jangka panjang bisa terjadi jika dampak jangka pendek tidak teratasi dengan baik dan dibiarkan berkepanjangan. Kondisi tersebut akan menimbulkan kehilangan rasa percaya diri, meragukan harga diri, serta meragukan kemampuan diri.
"Nah, hal ini membuat korban lebih sulit untuk meninggalkan hubungan yang tidak sehat," imbuh perempuan berkacamata ini.
Selain itu, lanjut dia, KDRT bisa menyebabkan gangguan kecemasan, depresi, penyalahgunaan obat terlarang, hingga gangguan kesehatan jika memiliki riwayat penyakit kronis.
Dampak KDRT tidak hanya dirasakan oleh korban, tetapi juga anak yang turut serta melihat tindakan KDRT. Meski begitu, dampaknya mungkin tidak mudah dikenali dan disadari. Terutama jika anak memiliki sifat tertutup dan terlihat menjalani aktivitas seperti biasanya.
Biasanya anak cenderung menarik diri dari lingkungan pertemanan maupun keluarga, sering melawan, atau mengalami gangguan tidur.
Baca Juga: Dua ASN Di Trenggalek Terjerat Kasus Cabul Dan KDRT Digali Lebih Dalam
Sekecil apa pun dampak setelah terjadi KDRT, jangan dibiarkan begitu saja. Seperti kecemasan, kesulitan tidur, atau ketakutan.
"Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan menemui orang-orang terdekat atau psikolog maupun psikiater agar tidak menimbulkan penyakit kronis," tandasnya. (ink/c1/sub)
Editor : Didin Cahya Firmansyah