BLITAR - Selama ini, produksi arang di Desa Sumberingin, Kecamatan Sanankulon, belum begitu populer. Meskipun begitu, Hasan dan beberapa orang warga lain di desa ini telaten membuat arang dari limbah batok.
Saat ditemui di kediamananya yang berada di Jalan Jawa, tepat di belakang kediamannya terdapat dua tungku pembakaran. Masing-masing berdiameter sekitar 1 meter dengan kedalaman kurang lebih 5 meter.
“Pembakaran itu ada tahapannya, tidak sekadar membakar. Tahap pertama itu membutuhkan 25 sak karung batok kelapa. Batoknya pun harus kering dan bersih dari serabut-serabut yang menempel,” jelasnya.
Ternyata, langkah pembakaran tidak berhenti di situ. Demi memenuhi tungku pembakaran, 25 karung dirasa kurang. Dengan begitu, setelah api merata, dimasukkan lagi batok kelapa hingga memenuhi tungku yang ada. Setelah penuh, tungku ditutup dengan seng yang sudah dimodifikasi agar batok tidak terbakar sampai jadi abu.
Proses pembakaran sampai api merata juga terbilang lama. Hasan harus menunggu hingga 12 jam tiap karung. Jika sampai penuh, kurang lebih menghabisakan waktu selama 5 hari. “Soalnya satu lubang ini memiliki kapasitas 5 ton sehingga prosesnya cukup lama,” ungkapnya.
Jika dirasa batok kelapa sudah penuh dan menjadi arang, maka langkah selanjutnya disiram dengan air agar api yang masih menyala bisa mati. Setelah didiamkan sehari dan dirasa sudah tidak ada api yang menyala, arang batok kelapa pun sudah jadi dan siap dinaikkan dari dasar lubang.
Baca Juga: Dapur Jadi Arang, Belasan Ayam Terpanggang
“Setelah itu nanti dipilah lagi. Batok yang masih cokelat itu dipisahkan, soalnya belum matang, untuk nantinya dicampur dengan pembakaran berikutnya. Sedangkan yang matang itu berwarna hitam dan di dalam pecahannya terlihat mengkilap,” terangnya.
Setelah proses pemisahan, tahap selanjutnya yakni dimasukkan mesin tertentu guna memisahkan dengan debu atau abu yang ada. Lalu tinggal proses pengiriman.
“Ada pengepul sendiri. Kita hanya cari bahan baku dan produksi. Nantinya, bos pengepul yang mengirim ke berbagai pabrik guna dijadikan briket. Salah satunya ke Jawa Tengah,” jelasnya
Terkait bahan baku, dia menjelaskan bahwa terdapat pengepul baik dari pasar ataupun dari produsen kelapa. Sumbernya untuk mengambil batok kelapa pun macam-macam, ada dari Kediri, Blitar, Malang, dan Tulungagung. Dia hanya menunggu, jika sudah banyak, maka para pengepul akan menghubunginya.
Dia mengaku sudah menekuni usaha ini setahun terakhir. Namun, sifatnya hanya sebagai usaha sampingan. Meski begitu, dalam sekali produksi, dia dapat mengantongi uang Rp 1 juta bersih. Dengan catatan, kualitas produksinya bagus.
Disinggung terkait ramainya warga yang mengeluh karena asap pembakaran arang batok kelapa serta debu hasil gilingan, Hasan menyayangkan hal itu. Sebab, usaha tersebut bukan aktivitas baru. “Kemarin itu sudah ada mediasi, baik dari desa, kecamatan, dan dinas terkait,” katanya.
Mski begitu, Hasan juga sadar diri. Artinya, usahanya memicu polusi udara dan dikeluhkan lingkungan sekitar. Untuk itu, dia memilih untuk mengkuti hasil mediasi tersebut. Salah satunya dengan meninggikan tembok produksi.
“DLH menyarankan untuk meninggikan cerobong asap serta membatasai ruang produksi dengan tembok. Kalau di sini itu jauh tetangga, apalagi tempat produksi saya sekelilingnya sawah, jadi aman,” ungkapnya. (mg2/c1/hai)
Editor : Doni Setiawan