BLITAR - Kemarau diprediksi berlangsung hingga November. Kondisi tersebut membuat cuaca terasa panas dan terik matahari menyengat.
Kemarau panjang tersebut menyebabkan pertumbuhan bibit awan sangat minim sehingga tidak bisa dilakukan modifikasi cuaca berupa hujan buatan. Khususnya di Jawa Timur (Jatim).
“Bibit awan menjadi syarat utama untuk melakukan modifikasi cuaca,” kata prakirawan BMKG Jawa Timur, Linda Fitrotul Muzayanah, kepada koran ini.
Modifikasi cuaca bisa menjadi salah satu cara untuk mengatasi dampak El Nino yang membuat musim kemarau berlangsung lebih lama sehingga menimbulkan berbagai dampak negatif terhadap berbagai sektor.
Salah satunya di bidang pertanian hingga risiko terjadinya kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Dalam prakiraan cuaca, lanjut dia, perhitungan berdasarkan waktu dasarian. Satu dasarian memiliki rentang waktu 10 hari, sedangkan dalam satu bulan terdapat 3 dasarian.
Yakni, dasarian satu mulai tanggal 1-10, dasarian 2 tanggal 11-20, dan dasarian 3 tanggal 21-30. “Pertumbuhan bibit awan memang ada, tapi jumlahnya sangat sedikit sehingga tidak bisa dilakukan modifikasi cuaca,” paparnya.
Namun, Linda menjelaskan, pertumbuhan awan akan banyak terjadi di masa peralihan. Jika diprediksi akan berlangsung pada awal November hingga akhir November nanti.
“Sebelumnya, Pemprov Jawa Timur pernah mengajukan untuk melakukan modifikasi cuaca. Namun, karena pertumbuhan awan yang minim, sehingga belum bisa dilakukan.
Pemerintah harus lebih optimal untuk mengatasi dampak yang terjadi di wilayah masing-masing. Seperti distribusi air bersih maupun tanggap karhutla,” ujarnya. (ink/c1/sub)
Editor : Doni Setiawan