BLITAR – Renovasi Jembatan Dawuhan yang berada di Desa Dawuhan, Kecamatan Kademangan, dinyatakan telat 29 persen. Itu merupakan hasil sidak yang dilakukan oleh DPRD Kabupaten Blitar. Menilik kondisi yang ada, bukan tidak mungkin pihak kontraktor bakal diberi surat peringatan (SP) 2.
Pantauan di lokasi, tampak para pekerja masih dalam proses pengerjaan jembatan yang menghubungkan dua dusun di Desa Dawuhan itu. Alat berat seperti bego dan truk semen dikerahkan untuk mempercepat progres proyek ini. Warga masih menggunakan jembatan darurat dari bahan bambu sejak jembatan utama itu roboh tiga tahun lalu.
“Usai kami melihat di lokasi dan bertanya kepada pelaksana proyek, ternyata ada keterlambatan pengerjaan sekitar 29 persen. Sedangkan saat ini progresnya masih 3 persen. Padahal, proyek yang dimulai sejak Agustus ini harusnya sudah mencapai 32 persen,” ujar anggota Komisi III DPRD Kabupaten Blitar Andika Agus Setiawan saat ditemui di lokasi, Selasa (24/10/2023).
Dia menambahkan, . Maka dari itu, bila sistem pengerjaannya tidak diubah, maka dipastikan nantinya progres pengerjaan juga tetap lambat dan molor dari target. “Dewan juga mendengar alasan kontraktor terkait keterlambatan ini. Yaitu karena kesulitan mendatangkan alat,” sambungnya.
Andika mengaku akan menindaklanjuti temuan sidak dengan melakukan rapat bersama anggota komisi III. Namun, dewan akan melakukan evaluasi kembali terhadap renovasi Jembatan Dawuhan pada 6 November mendatang. Dia meminta evaluasi lanjutan nanti untuk mematok progres 46 persen pada pengerjaan jembatan.
“Kami sudah memberi masukan kepada pelaksana proyek dan pada 6 November akan dilihat lagi progresnya. Selain pekerja dan alat yang kurang, material juga belum on set. Jika dua pekan lagi tidak sesuai target kami, maka bisa saja pejabat pembuat komitmen (PPK, Red) menerima SP 2,” tegasnya.
Politikus PAN ini menyebut pekerja proyek Jembatan Dawuhan ini hanya 25 orang. Saat ini, para pekerja sedang melakukan tahapan pengecoran pada bantaran sungai. Bahkan, girder jembatan juga belum didatangkan oleh pelaksana. Namun, Andika belum berani menanggapi kualitas proyek. “Sebab, fokus dewan saat ini adalah menilai sistem kerjanya,” ucapnya.
Sementara itu, kontraktor CV Anindhika Pratama Eko Supriyono optimistis bisa merampungkan pengerjaan Jembatan Dawuhan sesuai target yang ditentukan. Yakni, pada 22 Desember mendatang. Dia mengaku keterlambatan ini disebabkan oleh keterbatasan alat. Itu juga tak lepas dari pihak kontraktor yang sudah mendapat SP 1 dalam rapat bersama anggota dewan beberapa waktu lalu.
“Kami mengakui sampai saat ini masih mendapat 3 persen dalam proses renovasi jembatan. Kami legawa disebut dewan tidak profesional, tapi setelah ini akan lebih giat bekerja. Salah satunya dengan menambah tenaga dan jam kerja seperti saran dari dewan,” tutur Supriyono.
Supriyono mengungkapkan bahwa juga sedang dalam proses pengadaan alat baru yang diproyeksikan untuk mengkebut pengerjaan.
Kabid Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Kabupaten Blitar, Richard Silaloho mengaku, keterlambatan pengerjaan ini karena pelaksana kesulitan dalam pengeboran fondasi sungai. Kontur tanah sungai yang keras juga disebut jadi kendala.
“Kami sudah evaluasi. Kami berharap ada tambahan alat dari rekanan untuk pengeboran fondasi. Bulan depan, sesuai kesepakatan harus mencapai 46 persen. Kami berusaha agar bangunan bawah jembatan segera selesai untuk menghindari datangnya hujan,” pungkasnya. (jar/c1/dit)
Editor : Doni Setiawan