BLITAR - Jumlah mobil pemadam kebakaran (damkar) di Kota Blitar belum memadai. Selain jumlah yang tidak ideal, kondisi sebagian mobil juga tidak optimal lantaran usia kendaraan sudah tua. Keterbatasan anggaran menjadi alasan Pemerintah Kota (Pemkot) Blitar belum bisa melakukan pengadaan unit baru.
Pelaksana tugas (Plt) Kepala Satpol PP Kota Blitar Roni Yoza Pasalbessi mengungkapkan, terdapat lima unit mobil damkar yang kini dimiliki. Jumlah itu belum ideal jika disejajarkan dengan pembangunan perumahan atau kantor bertingkat.
Karena itu, damkar perlu sarana prasarana (sarpras) pendukung bilamana terjadi kebakaran di gedung bertingkat. “Melihat harga, kalau menyikapi banyaknya gedung bertingkat dan hotel, minimal Rp 7,5 miliar atau Rp 1 miliar untuk satu unit kendaraan dengan adanya tangga tinggi,” ujarnya.
Persoalan lainnya yakni kondisi mobil damkar yang sudah tua. Dari lima unit mobil, tiga di antaranya merupakan hasil pengadaan sekitar tahun 2000. Meski masih berfungsi, performa laju kendaraan kurang optimal. Secara keseluruhan, kondisi tiga mobil tersebut sekira 60 persen.
“Saat kendaraan tua, kecepatan juga tidak bisa maksimal. Kalau selang dan peralatan kebakaran, tidak bisa jadi alasan. Hanya, laju kendaraan susah,” terangnya.
Roni tak menyebut secara pasti berapa jumlah ideal mobil damkar yang semestinya dipenuhi Unit Pelayanan Terpadu (UPT) Damkar Kota Blitar. Paling tidak, kata dia, jumlah pengadaan selaras dengan tingkat kesulitan medan yang dihadapi petugas.
Untuk menutup kekurangan tersebut, damkar secara bertahap melakukan perpanjangan selang hingga 50 meter. Dengan begitu, selang yang panjang bisa menjangkau medan yang sulit terjangkau. Misalnya, di gang sempit dan mustahil dilalui mobil.
Di samping itu, perawatan mobil juga rutin dilakukan setiap hari demi menjaga performa kendaraan sehingga unit tetap siap siaga selama 24 jam. “Harapannya, pada 2024 bisa mengadakan pelatihan pemadaman, fokusnya di rusunawa,” imbuhnya.
Pelatihan tersebut memang masih menjadi target Satpol PP Kota Blitar yang membawahi UPT damkar. Simulasi damkar di rumah susun sederhana sewa (rusunawa) di Kecamatan Sukorejo itu penting untuk menanggulangi terjadinya kebakaran.
“Masih kami agendakan pelatihan pemadaman untuk gedung bertingkat. Untuk latihan saja, butuh anggaran tidak sedikit,” tandasnya. (luk/c1/sub)
Editor : Doni Setiawan