BLITAR- Makanan khas Blitar, blendi, masih menjadi makanan tradisional yang masih eksis hingga sekarang, meski terkenal pedas.
Bahkan makanan khas Blitar ini sering dicari-cari karena rasa dan keunikannya yang tidak lepas dari kendil.
Di tengah maraknya varian makanan pedas, makanan khas Blitar, blendi sayur ini menjadi pilihan hingga sekarang.
Padahal makanan khas Blitar ini sudah ada sejak tahun 60-an. Lokasinya termasuk tidak jauh dari kantor Bupati Blitar, tepatnya di Jalan Kusuma Bangsa, terdapat sebuah warung sederhana yang menawarkan varian blendi tewel.
Menurut pengakuan si pemilik usaha, Sekar Firdausa, blendi tewel punya ciri khas tersendiri. “Yakni aroma smoky (berasap) yang unik dan nikmat,” katanya.
Dia menambahkan, bumbu olahan ini tak jauh beda dari bumbu olahan pedas pada umumnya. Bawang merah, bawang putih, dan cabai. Dari sekian bahan yang disebutkan, aroma pedas biasa muncul dari cabai rawit.
”Sekali produksi kami bisa menghabiskan tewel sebanyak 10 kg. Sedangkan untuk cabai sekitar 5 kg. Memang bahanya mirip-mirip dengan lodeh. Namun yang membedakan itu jumlah cabai yang lebih banyak serta durasi masaknya yang lama,” ujarnya.
Kendati demikian, hal yang paling sulit dalam membuat blendi adalah lamanya proses memasak. Yakni sekitar 8-12 jam dengan suhu tetap.
Itu perlu dilakukan agar bumbu meresap ke dalam sayur yang ada. Di sini si pembuat harus jeli saat memastikan suhu dan durasi betul-betul tak berubah.
“Salah satu ciri khas lain blendi itu ada pada potongannya yang lebih besar dari pada umumya, sehingga berkesan membuat kenyang dengan rasa yang pedas,” jelasnya.
Disinggung soal wadah, Sekar mengaku bahwa dirinya biasa memanfaatkan kendil sebagai wadah blendi.
Bukan tanpa alasan, opsi ini diambil karena kendil bisa menjaga suhu blendi tetap hangat. Blendi yang hangat cenderung lebih nikmat saat disantap.
“Memang tidak semua suka dengan aroma yang muncul dari kendil. Tapi itu justru akan membuat blendi jadi awet,” katanya. (mg2/dit)
Editor : Didin Cahya Firmansyah