BLITAR - Abon adalah makanan yang umumnya terbuat dari olahan daging sapi atau daging ayam. Namun, bagi Musripah, punya abon lele bisa dari bahan baku lain seperti ikan lele dan kutuk atau gabus.
Warga Kelurahan Karangsari, Kecamatan Sukorejo, itu kini menggeluti bisnis produksi abon lele tersebut sekaligus mengisi waktu luang usai pensiun.
Rumah yang beralamat di Jalan Randu Agung Gang 2 itu sekaligus menjadi tempat produksi abon lele.
Dia membuat ruang khusus di dekat dapur untuk mengolah abon lele. Mulai dari perebusan daging, pengeringan hingga penggilingan, serta pengemasan.
Musripah telah menjalani usaha produksi abon lele tersebut kurang lebih 11 tahun. Berawal dari pembuatan abon lele, lalu berkembang memproduksi abon ikan gabus.
“Ya, awalnya saya memproduksi abon lele karena suami mempunyai kolam lele di belakang pekarangan rumah sejak tahun 2012,” tutur perempuan 67 tahun ini.
Banyaknya ikan lele yang dipelihara menjadi alasan utama Musripah untuk mengolahnya menjadi produk abon lele yang bermanfaat.
Salah satunya adalah makanan siap saji seperti abon lele. Proses produksinya dilakukan di rumah sendiri yang berada di Jalan Randu Agung, Kelurahan Karangsari, Kecamatan Sukorejo.
Walaupun terbuat dari ikan lele, tidak tercium bau amis yang mengganggu konsumen ketika menikmati enaknya abon lele.
Tekstur abon lele yang mempunyai ciri khas garing dan lembut menjadi daya tarik tersendiri bagi para konsumen.
Untuk mendukung usahanya tersebut, Musripah saat itu mengajukan bantuan alat produksi abon lele ke pemerintah daerah.
Alhasil, pengajuan tersebut disetujui dan mendapat bantuan yang termanfaatkan hingga kini untuk pembuatan abon lele.
“Saya mengajukan bantuan alat produksi kepada dinas untuk mempermudah proses produksi abon lele,” katanya.
Beliau mendapatkan bantuan alat produksi seperti penggiling ikan untuk membantu produksi abon lele dalam jumlah banyak.
Dalam sekali produksi, daging lele yang dibutuhkan sebanyak 20 kilogram (kg). Produksi abon lele dapat dilakukan selama satu bulan sekali. Daging lele sebanyak 20 kg mampu menghasilkan 40 kg abon lele.
Sementara itu, bagian tubuh lele yang tidak diproduksi seperti ekor, kepala, dan telur dibeli oleh petani.
Bagian tubuh tersebut dijadikan pupuk tanaman. Kemudian untuk bagian kulit diolah menjadi kerupuk rambak.
Tidak ingin berkutat dengan abon lele, Musripah mencoba hal baru. Yakni, membuat abon kutuk alias ikan gabus.
Tepat pada Mei lalu, dia memulai produksi abon kutuk. “Saat itu memang ada orang yang menawari daging kutuk yang termanfaatkan. Akhirnya saya olah menjadi abon,” ujarnya.
Musripah memproduksi abon kutuk yang berasal dari limbah daging kutuk. Harga jual abon kutuk mencapai Rp 30 ribu per 100 gram, sedangkan harga jual abon lele Rp 25 ribu per 100 gram.
Harga jual abon kutuk lebih mahal karena daging kutuk memiliki banyak duri tajam sehingga dalam memisahkan duri membutuhkan waktu yang cukup lama. Abon lele dan abon kutuk dapat ditemukan di pusat oleh-oleh Kota Blitar.
Salah satu konsumen abon lele, Balqis Abida Ismu, mengaku suka dengan abon lele maupun kutuk.
Sebab, rasanya tidak kalah dengan abon sapi pada umumnya. Terlebih, teksturnya lembut. “Rasanya enak dan tidak ada bau amis. Selain itu, tekstur abonnya garing dan sangat lembut,” katanya. (*/c1/sub)
Editor : Doni Setiawan