BLITAR - Tak banyak ditemui perempuan menjadi pemain barongan atau jaranan. Tapi, Tryas Setyowati, warga Desa/Kecamatan Sanankulon, Kabupaten Blitar, ini sudah dekat dengan seni barongan sejak belia. Itu membuatnya tak ragu bergabung dengan sanggar seni di lingkungannya
Tryas mengungkapkan, saat duduk di bangku SMP, dia sering diajak oleh sanggarnya untuk menjadi pengisi di berbagai acara di wilayah Kabupaten Blitar. Dari sana timbul keinginan untuk menjadi seorang pemain barongan, lantaran dia merasa kegiatan ini cukup mengasyikkan.
“Ternyata ketika saya masuk di sanggar seni, cukup banyak anak perempuan yang ikut Ada yang berperan menjadi pemain barongan, jaranan dan lainnya. Dulu ketika masih aktif dalam sebulan bisa sampai 10 kali tampil dengan grup jaranan di Kabupaten Blitar,” ujar Tryas.
Perempuan 18 tahun ini mengaku pernah tampil di luar Kabupaten Blitar, seperti Surabaya dan Malang. Tapi undangan terbanyak tetap berasal dari wilayah Blitar Raya.
“Kalau sudah ahli di kesenian barongan, tanpa persiapan pun bisa. Kalau masih baru jadi pemain barongan harus banyak latihan dan persiapan sepekan sebelum tampil,” katanya.
Sejak lulus dari bangku sekolah dan mulai mencicipi dunia kerja, Tryas sudah mulai sedikit mengurangi intensitasnya berkegiatan di sanggar. Bahkan dalam sebulan dia hanya tampil sebanyak satu atau dua kali saja.
Wajar. Kesibukannya sebagai seorang pegawai di salah satu tempat usaha mebuatnya harus jeli dalam membagi peran dan waktu.
”Saya sih inginnya saat ini istirahat dulu karena sudah ada penerusnya. Namun ya sesekali masih bersedia tampil barongan. Untungnya saat ini anak perempuan yang ikut di sanggar cukup banyak daripada saat saya awal masuk kesenian ini,” ungkapnya.
Ada hal lain yang mebuatnya makin tertantang untuk terus berkegiatan barongan atau jaranan. Yaitu saat dia mendapati wajah-wajah penonton yang antusias meskipun malam sudah mulai larut saat pertunjukkan digelar. Dia menilai itu merupakan apresiasi dari penonton.
Oleh sabab itu dia tidak ingin mengecewakan mereka yang sudah datang untuk mendapatkan hiburan berkelas dari para penampil.
Tapi aja juga hal yang membuatnya was-was saat mulai tampil. Yaitu adanya penonton yang tawuran. Belakangan hal ini cukup sering dia dapati. Sebagai pegiat kesenian jarananbarongan, tentu Tryas sangat menyayangkan kondisi ini.
“Dulu saya masih sekolah tampil jadi barongan tidak ada tawuran. Kalau sekarang banyak tawuran. Biasanya warga luar desa yang menyebabkan aksi itu,” tegasnya. (jar/dit)
Editor : Doni Setiawan