Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Lahan Pertanian Kering di 3 Kecamatan di Kota Blitar, Kondisi Embung Mengenaskan, Petani Putar Otak

M. Luki Azhari • Rabu, 8 November 2023 | 17:45 WIB
MENGERING: Warga melintas di jembatan Embung Jatimalang, Kelurahan Sentul, Kecamatan Kepanjenkidul, yang debit airnya menyusut, Selasa (7/11).
MENGERING: Warga melintas di jembatan Embung Jatimalang, Kelurahan Sentul, Kecamatan Kepanjenkidul, yang debit airnya menyusut, Selasa (7/11).

BLITAR - Kekeringan akibat kemarau panjang dan El nino turut mengancam sektor pertanian di Kota Blitar. Pasalnya, tak sedikit lahan baku pertanian yang dilanda krisis air.

Kabid Tanaman Pangan Hortikultura dan Penyuluhan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Blitar Dian Lukitasari tak menampik bahwa sektor pertanian turut terimbas kemarau panjang.

Pantauan di lapangan, sekitar 70 persen lahan pertanian di Kota Blitar kesulitan memenuhi kebutuhan air. Kondisi itu tersebar di sejumlah titik di tiga kecamatan.

“Musim kemarau sejak September-November, dari segi irigasi di Kota Blitar memang tergolong kekurangan air. Tapi, alhamdulillah belum sampai puso atau gagal panen,” ujarnya Selasa (7/11).

Indikasi kekeringan di lahan pertanian di Kota Blitar terlihat di Lingkungan Jatimalang, Kelurahan Sentul, Kecamatan Kepanjenkidul. Embung Jatimalang yang debit airnya melimpah itu akhirnya menyusut drastis. Terlihat jelas lapisan dasar embung mengering.

Para petani di Kota Blitar pun putar otak serta mengeluh karena lahan pertanian mereka tak teraliri air secara optimal. Terlebih, embung tersebut jadi salah satu sumber pengairan di sawah.

Dian menyebut, air irigasi permukaan di saluran irigasi mayoritas telah menipis. Untuk mencukupi kebutuhan air di sawah, tak sedikit petani beralih mengandalkan sumur bor.

Sayangnya, tidak semua petani di Kota Blitar bisa membuat sumur lantaran keterbatasan biaya.

“Dilihat dari kondisi petani di lapangan, hampir semua sudah pakai pompanisasi (sumur bor). Karena indikatornya, kalau masih ada air irigasi permukaan, mereka tidak akan pakai sumur bor,” tuturnya.

Kemarau panjang ini, menurut dia, menjadi dilema petani. Di satu sisi, menjadi berkah, dan di sisi lain sebuah bencana. Misalnya, tanaman cabai dan jagung yang kini masuk musim panen, kebanyakan kualitasnya stabil saat kondisi tanah kering.

Meski begitu, petani di Kota Blitar juga dihadapkan dengan potensi penurunan produktivitas hasil panen. “Yang terlihat kemarin bisa sampai panen. Tapi, di beberapa titik di Kecamatan Kepanjenkidul, produktivitasnya turun dibanding ketika cuaca normal,” terangnya.

Data dari DKPP Kota Blitar, rata-rata produktivitas jagung yakni 6,3 ton per hektare (ha). Akibat kemarau, produktivitas di beberapa titik di Kecamatan Kepanjenkidul turun menjadi 4,8 ton per ha dengan produksi 296,1 ton. Adapun secara keseluruhan, produksi jagung di Kota Blitar hingga Oktober lalu mencapai 5.882,1 ton.

Produktivitas cabai rawit pada periode yang sama yakni 0,89 ton per ha. Rinciannya, produksi cabai dari tiga kecamatan mencapai 21,5 ton dengan realisasi area panen 24 ha, sedangkan tanaman padi pada Oktober lalu tidak ada petani menanam ataupun panen.

“Apabila November belum hujan, kemungkinan akan mundur untuk musim tanam padi. Kebiasaan kami tahun sebelumnya, saat cuaca normal, musim tanam Oktober-Desember,” terangnya.

Pihaknya meminta petani tetap berjuang. Sembari menunggu musim hujan, petani diimbau memanfaatkan musim kemarau dengan memproduksi pupuk organik dan arang sekam untuk diaplikasikan ke lahan pertanian.

Hal ini efektif menyerap air saat hujan untuk persiapan musim tanam berikutnya. “Teknisnya, masukkan banyak arang ke lahan pertanian. Kalau hujan turun, dia menyerap air dalam jangka waktu yang lama. Pakai saja arang sekam atau damen,” tandasnya. (luk/c1/sub)

Editor : Doni Setiawan
#Kota Blitar #kekeringan