BLITAR – Proses pembangunan Jembatan Subali yang menghubungkan Kelurahan Kedungbunder dan Sutojayan, Kabupaten Blitar, mengalami keterlambatan. Itu karena proses pembebasan lahan cukup menyita waktu.
Salah seorang warga Desa Kedungbunder, Singgih Karyono mengaku mengamati pembangunan Jembatan Subali yang bersampingan dengan rumahnya. Tempat tinggalnya jadi salah satu tempat yang tedampak pembangunan jembatan karena dekat sekali dengan sungai.
“Di sini akibat dampak pembangunan Jembatan Subali di Kabupaten Blitar, ada tujuh rumah di Desa Kedungbunder yang terdampak,” katanya.
Singgih menambahkan, pembangunan Jembatan Subali dimulai sejak akhir Agustus lalu. Namun belum ada progres yang signifikan. Tiang penyangga jembatan juga belum ada wujudnya hingga saat ini. Selain itu, terlihat pekerja yang sedang menangani besi yang dimungkinkan untuk pondasi jembatan.
“Menurut saya lamanya progres pembangunan karena minimnya pekerja. Karena fokus pengerjaan hanya di sisi barat Sungai Bogel. Sedangkan di sisi timur tidak ada pekerja sama sekali. Harusnya dibagi dua tim,” ujar Singgih yang ditemui di rumahnya Selasa (7/11/2023).
Dia merasa khawatir proyek pembangunan Jembatan Subali ini mengalami keterlambatan. Selain itu, musim penghujan juga diprediksi akan terjadi pada bulan ini. Sehingga dia takut rumahnya terjadi kebanjiran seperti tahun sebelumnya.
Terlebih wilayah Kecamatan Sutojayan, Kabupaten Blitar, ini dikenal sebagai salah satu langganan banjir setiap tahun.
Menurut Singgih, proyek pembangunan Jembatan Subali harus sering dikontrol oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blitar. Sehingga proses pengerjaan dapat tertangani dengan cepat dan sesuai target di akhir tahun ini.
“Harapan kami pembangunan Jembatan Subali ini dapat cepat terselesaikan. Karena dari progresnya seharusnya telah mendapatkan lebih dari 30 persen. Ya semoga saja bisa selesai dengan lancar,” terangnya.
Sementara itu, Kabid Bina Marga Dinas PUPR Kabupaten Blitar Hamdan Zulfikri Kurniawan menerangkan bahwa progres pembangunan Jembatan Subali memang baru mencapai sekitar 15-20 persen.
Dia tak menampik adanya deviasi atau keterlambatan sekitar 10 persen dari jadwal yang ditentukan di muka. Itu tak lepas dari molornya proses pembebasan lahan di sekitar lokasi.
“Memang pada awal-awal ada sedikit kendala pada pembebasan lahan. Tapi Alhamdulillah sekarang sudah teratasi. Jembatan ini memakai rangka baja. Jadi pekerjaan awal memang presentasenya sedikit,” tutur Hamdan.
Menurutnya waktu pengerjaan proyek ini banyak tersita pada pelaksaaan tes pile dynamic analyzer (PDA). Yakni uji daya tekan tiang jembatan. Lahi-lagi alasannya akibat mundurnya jadwal dari pihak pelaksana. Jika tahapan pekerjaan borpile dan abutment rampung, dimungkinkan progres pembangunan Jembatan Subali bakal naik signifikan.
“Kami terlus melakukan koordinasi dengan tim direksi dan pelaksana. Bahkan selalu mencari terobosan untuk mengejar ketertinggalan. Kami masih optimis pembangunan Jembatan Subali selesai tepat waktu,” pungkasnya. (jar/dit)
Editor : Doni Setiawan