BLITAR - Wayang kulit memiliki sejarah yang panjang. Kesenian ini sudah ada sejak kerajaan Hindu Buddha Wayang juga di gunakan oleh para ulama untuk menyebarkan agama Islam di Nusantara.
Salah satunya adalah Sunan Kalijaga. Beliau menyebarkan agama Islam menggunakan metode pertunjukan kesenian wayang kulit.
Perkembangan wayang kulit terus terjadi. Cerita-cerita yang dimainkan pun kian berkembang.
Adapun masuknya agama Hindu di Indonesia pun telah menambah khasanah kisah-kisah yang dimainkan dalam pertunjukan wayang.
Pada kisah Mahabarata dan Ramayana merupakan 2 contoh kisah yang menjadi favorit pada zaman Hindu-Budha di masa itu.
Kedua epik ini dinilai lebih menarik dan memiliki kesinambungan cerita yang unik sehingga pada abad ke X hingga XV Masehi, kedua kisah inilah justru yang menjadi cerita utama dalam setiap pertunjukan wayang.
Kesukaan kepada masyarakat Jawa pada seni pertunjukan wayang pada masa tersebut juga berpengaruh terhadap proses penyebaran agama Islam di tanah Jawa.
Sunan Kalijaga misalnya, ketika beliau berdakwah, beliau akan menggelar pertunjukan wayang dan memainkannya untuk mengundang banyak orang datang.
Dalam pertunjukan itu, beliau menyisipkan pesan moril dan dakwah islam secara perlahan agar masyarakat yang mayoritas masih memeluk Hindu dan Budha itu tertarik untuk mengetahui Islam lebih dalam.
Dari perkembangannya, pertunjukan wayang juga mulai diiringi dengan segala perlengkapan alat musik tradisional gamelan dan para sinden.
Kedua pelengkap ini dihadirkan Sunan Kalijaga untuk menambah semarak pertunjukan wayang sehingga lebih menarik untuk ditonton.
Baca Juga: Bukan dari Kulit atau Kayu, Inilah Keunikan Wayang Gaplek dari Trenggalek
Beberapa jenis wayang juga sudah dikembangkan untuk memperkaya khasanah dunia perwayangan.
Beberapa contoh wayang tersebut misalnya wayang golek, wayang orang, wayang kulit, wayang kayu, wayang rumput, dan wayang motekar.
Di masa sekarang ini, ketertarikan anak muda akan kesenian wayang kulit bisa dinilai sangat rendah, mengingat banyaknya permainan berbasis teknologi yang bisa mereka mainkan.
Meski begitu, Masih banyak juga orang tua yang dengan aktif mengajarkan anaknya untuk mengapresiasi salah satu karya seni tradisional Indonesia ini, dan hal tersebutlah yang dibutuhkan untuk memajukan wayang kulit di masa ini. (*)
Editor : Doni Setiawan