BLITAR - Peringatan Hari Pahlawan diperingati pada tanggal 10 November setiap tahunnya. Namun, makna peringatan Hari Pahlawan “hampir” kehilangan arti dan spirit yang mendasari kenapa harus diperingati setiap tahun.
“Kenapa harus diperingati setiap tahun Hari Pahlawan ? Itu yang menjadi pertanyaan. Karena kalau hanya sekadar seremoni dan upacara saja, tapi maknanya sudah bias dan kabur,” jelas Joko Prasetyo, tokoh muda dan penggerak Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Gerakan Pembaharuan Indonesia (GPI) ini.
Lebih jauh lagi terkait Hari Pahlawan, caleg Partai Gerindra ini mengaku, para pahlawan berjuang tanpa pamrih meskipun harus kehilangan harta bahkan nyawa. Sementara hari ini, orang-orang yang harus mengisi kemerdekaan asyik dengan kepentingan pribadi, keluarga, dan golongan sendiri.
“Masih banyak warga yang tidak punya rumah, kesulitan menyekolahkan anaknya, susah untuk makan yang layak. Itu yang harus dimaknai secara seksama,” ungkap caleg Kabupaten Blitar Dapil 1 (Kanigoro, Kademangan, Wonotirto, dan Bakung) nomor urut 9 ini.
Dia berharap Hari Pahlawan ini tidak hanya diperingati oleh para aparat negara, pejabat, atau kalangan pemerintah saja. Namun, masyarakat juga harus diajak dan dibuatkan program-program yang menyentuh serta memberikan manfaat bagi semua kalangan.
“Selama masyarakat tidak pernah diajak untuk memperingati hari-hari besar itu, spirit para pahlawan dan pejuang akhirnya tidak sampai kepada mereka yang diakar rumput. Marilah dengan semangat Hari Pahlawan menjadi spirit untuk membangun dan menyejahterakan masyarakat,” tegasnya. (*/c1/ady)
Editor : Doni Setiawan