Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Batik Turi Blitar Siap Ekspor, Parianto: Dongkrak Ekonomi, Gandeng Ibu Rumah Tangga dan Disabilitas

Mila Inka Dewi • Jumat, 10 November 2023 | 20:00 WIB
BERJUANG LESTARIKAN BATIK: Parianto, penggagas Kampung Batik Turi. Sudah ada puluhan ibu-ibu yang diberdayakan untuk memproduksi batik.
BERJUANG LESTARIKAN BATIK: Parianto, penggagas Kampung Batik Turi. Sudah ada puluhan ibu-ibu yang diberdayakan untuk memproduksi batik.

BLITAR - Banyak potensi kerajinan maupun produk lokal yang ada di Kota Blitar. Salah satunya, batik Turi. Melestarikan warisan budaya juga bagian dari perjuangan. Peringatan Hari Pahlawan bisa menjadi momentum untuk terus berbenah dan berjuang menjadi lebih baik.

Kota Blitar memiliki banyak perajin batik berbakat. Salah satunya Parianto, warga Kelurahan Turi, Kecamatan Sukorejo. Bersama sejumlah warga setempat, dia berusaha keras menjadikan batik Turi sebagai produk unggulan.

Baca Juga: Batik Tulungagung Punya Ciri Khas Perpaduan Warna yang Beda Dari Batik Lain

Berawal pada 2017 melalui program dari Pemerintah Kota (Pemkot) Blitar yaitu Masyarakat Berdaya Menuju Kota Pariwisata atau Maya Juwita, muncul gagasan untuk menjadikan batik Turi sebagai produk unggulan di Kelurahan Turi.

“Setelah musyawarah dengan tokoh masyarakat, kami merasa di Kelurahan Turi belum ada produk yang bisa diunggulkan. Akhirnya, kami sepakat untuk mengangkat batik Turi sebagai produk unggulan,” jelasnya saat ditemui di galeri Kembang Turi, Jumat (9/11/2023).

Mengambil nama Turi, lanjut dia, selain nama wilayah, dalam adat Jawa, Turi berarti bunga yang banyak disukai oleh masyarakat.

Selain itu juga dimanfaatkan sebagai menu makanan atau kulupan. Dengan harapan, batik Turi tersebut bisa diterima oleh seluruh lapisan masyarakat.

Adapun selain motif batik Turi, juga mengambil motif ikon di Kota Blitar. Seperti kendang, koi, pecut, Kampung Batok, jaranan, Makam Bung Karno, dan sebagainya.


“Sehingga kami mengombinasikan motif batik Turi dengan motif dari produk unggulan Kota Blitar agar makin berkembang,” terangnya.

Antok- sapaan akrabnya- mengatakan, sebelumnya memang ada pelatihan. Namun, setelah itu tidak diteruskan. Akhirnya, dia berusaha agar pelatihan batik Turi tersebut bisa dikembangkan oleh masyarakat.

Selain mendapat pesanan lokal, pihaknya juga mengirim pesanan batik Turi ke luar pulau, seperti Kalimantan dan Jambi. “Ya, dari asosiasi dokter di Jambi, setiap bulan pasti pesan batik,” katanya.

Saat ini, dia dan kelompok masyarakat Kelurahan Turi sedang bersiap untuk menembus pasar ekspor ke Belanda.

Itu setelah mendapat undangan sosialisasi tentang ekspor-impor dari Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperdagin) Kota Blitar. Saat itu, dia tidak ada persiapan sebelumnya.

Tidak disangka, produk batik Turi masuk kriteria untuk pasar ekspor. Kabar tersebut tentu menjadi kabar gembira bagi perajin batik. Harapannya, perekonomian perajin batik di Kelurahan Turi naik kelas.

Hanya, masih ada hal yang perlu dibenahi berupa kemasan produk agar bisa menembus ekspor.
“Kalau untuk kriteria lain, kebetulan produk kami sudah memenuhi. Sebab, untuk bisa ekspor, banyak indikator yang harus dipenuhi dan banyak berbenah juga," katanya.

"Misalnya, uji lab nanti kami kirim contoh kain ke balai besar di Jogjakarta. Baru hasil labnya, kita lampirkan di produk,” jelasnya.

Kini, total ada 29 orang yang diberdayakan untuk memproduksi batik Turi. Mayoritas adalah ibu rumah tangga.

Selain itu, ada juga orang-orang disabilitas, tetapi tidak semua bisa karena tidak selalu bisa berdampingan dengan orang-orang. Dengan begitu, hanya bekerja dari rumah.

Ada sekitar tiga orang disabilitas yang aktif berkarya dan mengirim produk. “Cuma dari pihak keluarga tidak selalu bisa mendampingi, karena sibuk bekerja juga,” ujarnya.

Terkait banyaknya perajin batik di Kota Blitar, dia tidak menampik hal tersebut. Pasalnya, batik memang kerajinan khas Indonesia yang pasti ada di setiap daerah.

Dengan demikian, bisa saling berkolaborasi dan mendukung satu sama lain untuk memajukan produk lokal. Tak jarang, saling berbagi pekerjaan jika mendapat banyak pesanan. Bersaing secara sehat dalam hal kualitas dan kuantitas.

Ketika disinggung perihal Hari Pahlawan, menurut dia, sebagai pelaku seni sekaligus UMKM memiliki kewajiban untuk mengisi kemerdekaan, termasuk melestarikan budaya yang dulu sering digunakan. Salah satunya adalah batik. Terlebih, kita sebagai generasi penerus.

Momen Hari Pahlawan tentu harus dirayakan dengan mengambil langkah-langkah tepat bagi seorang pelaku seni maupun UMKM.

Hal itu demi meningkatkan kualitas, kuantitas, maupun keterampilan di semua sektor. “Harus semangat dan yakin. Ke depan pasti kita mampu untuk melewati kesulitan-kesulitan yang ada. Memberikan pelatihan dan edukasi kepada anak-anak sebagai upaya mengenalkan budaya kepada generasi muda,” pungkasnya. (ink/c1/sub)

Editor : Doni Setiawan
#Ekspor #blitar #batik turi