Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Aris Setiono, Petani Kopi Asal Blitar yang Berikan Edukasi Budidaya Kopi ke Warga, hingga Ekspor

Mohammad Syafi'uddin • Jumat, 10 November 2023 | 23:00 WIB
ARIS SETIONO (petani kopi asal Kabupaten Blitar)
ARIS SETIONO (petani kopi asal Kabupaten Blitar)

BLITAR-Pahlawan merupakan penggerak di segala sendi-sendi berkehidupan di masyarakat. Di era modern seperti saat ini, pahlawan bisa siapa saja. Termasuk sosok-sosok yang mencerdaskan masyarakat. Aris Setiono, petani budidaya kopi asal Doko, Kabupaten Blitar, salah satunya.

Edukasi terkait seluk beluk budidaya kopi dia bagikan kepada masyarakat umum khususnya Kabupaten Blitar. Itu agar masyarakat melek akan besarnya dampak usaha kopi atas kemajuan ekonomi daerah maupun nasional. “Termasuk meningkatkan pendapatan petani yang berada di sekitar dalam membudidayakan serta menjual kopi,” terangnya.

Kelompok tani (poktan) di wilayah Kabupaten Blitar biasa budidaya kopi dengan kualitas ekspor. Bahkan produk olahanya juga tersebar di berbagai provinsi di Indonesia.

Pasar luar negeri seperti Saudi Arabia, Jepang, Taiwan hingga Hong Kong pernah dijajaki para produsen kopi besutan Arif. “Pengiriman di luar negri itu sudah di berbagai macam negara, yang paling jauh itu ke Amerika,” ucapnya.

Walaupun begitu, Aris mengaku tak bisa memenuhi kebutuhan pasar kopi setiap hari. Alasannya dia hanya menekankan pada kualitas produk yang dikirim. Itu membuat jumlah produksi jauh lebih sedikit karena produsen lebih berfokus pada kualitas yang dihadirkan.

“Untuk komunikasi dengan pembeli luar negeri saya serahkan ke tim. Soalnya saya tidak jago bahasa Inggris. Sedangkan untuk pemasaran kopi di berbagai media itu saya lakukan sendiri, termasuk melatih petani di kelompok tani,” ujarnya.

Total ada sebanyak 38 orang yang tergabung dalam kelompok tani yang dibesut Arif. Proses pembinaan dan pendampingan kepada anggota poktan kudu dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan. Jika tidak, besar kemungkinan anggota poktan akan sulit untuk mengembangkan usaha secara mandiri.

“kebanyakan itu terkendala dalam segi usia, kesabaran, kemauan sehingga sulit untuk diarahkan. Apalagi biji kopi ini harus dipetik satu persatu. Makanya benar-benar butuh kesabaran dan keuletan,” lanjutnya.

Menurut Aris, sikap pantang menyerah yang dilakukan oleh para anggota poktan di Desa Resapombo, Kecamatan Doko, itu menunjukkan semangat kepahlawanan. Sebab, mereka bisa menghasilkan sesuatu yang berdampak bagi banyak orang. Baik untuk masyarakat lokal, nasional, maupun internasional.

“Setiap masyarakat, khususnya petani, harus berdaya. Yaitu dengan cara memaksimalkan potensi daerahnya. Kalau kita tanam kopi, berarti yang harus maksimal di sana. Denga nbegitu kita bisa ikut memajukan ekonomi di masyarakat,” jelasnya. (mg2/dit)

Editor : Doni Setiawan
#budidaya kopi #blitar