BLITAR-Tidak semua peternak di Blitar memanfaatkan program inseminasi buatan (IB) pemerintah. Kawin suntik gratis tersebut dirasa tidak memuaskan sehingga memilih inseminasi mandiri atau berbayar melalui mantri hewan.
“Saya lebih sering menggunakan jasa inseminasi buatan dari luar dinas di Blitar. Walaupun dari pemerintah selalu ada dan gratis, tapi kata orang-orang hasilnya tidak bagus,” terang peternak sapi asal Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, yang enggan disebutkan namanya.
Lebih lanjut, pria 46 tahun tersebut mengungkapkan bahwa hasil inseminasi buatan dari pemerintahan di Blitar tidak bisa dipastikan. Tak jarang anakan yang dihasilkan tidak sesuai harapan.
Pihaknya menduga jenis bibit yang dibawa petugas bervariasi. Dengan begitu, anakan sapi yang dihasilkan juga berbeda-beda pula. “Tapi anehnya, kalau pelayanan kepada petugasnya baik, hasilnya juga baik. Ini sudah bukan sering lagi, bahkan terasa sudah tradisi,” lanjutnya.
Para peternak rata-rata tidak mau berspekulasi sehingga rela mengeluarkan Rp 70 ribu untuk membayar jasa inseminasi buatan dari jasa petugas luar dinas.
Di sisi lain, meski inseminasi buatan dari pemerintah gratis, biasanya peternak juga memberikan uang saku sebesar Rp 20 ribu. Namun, jika beberapa kali inseminasi buatan dilakukan tetapi belum membuahkan hasil, petugas biasanya tidak meminta anggaran karena merasa sungkan.
Dihubugi terpisah, Pengawas Bibit Ahli Muda Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Kabupaten Blitar Mohammad Imaduddin menjelaskan bahwa di setiap kecamatan ada dua petugas inseminasi buatan. Bahkan, wilayah yang terbilang banyak populasi hewannya disediakan empat petugas.
“Wilayah paling banyak itu di Kecamatan Talun, Garum, Kanigoro, Binangun, dan Sanankulon. Di sana itu banyak peternakan hewannya,” jelasnya.
Total ada 57 petugas inseminasi buatan di Kabupaten Blitar. Rata-rata dalam setahun ditarget 90 ribu sasaran IB.
Laki-laki 50 tahun itu mengakui tidak semua inseminasi buatan tersebut berhasil. Ada beberapa faktor yang memengaruhi inseminasi. Seperti tidak sesuainya asam basa dalam perut sapi betina, adanya sapi betina yang birahi tetapi tidak ada ovulasi, atau sperma yang akan disuntikkan mati karena penyimpanan kurang bagus.
“Sebenarnya bibit yang digunakan untuk inseminasi buatan itu diseleksi. Bahkan, prosesnya terbilang ribet dan penuh akan tes,” ungkapnya.
Terkait sapi hasil inseminasi buatan yang jelek, kata Imaduddin, kemungkinan karena bibit yang bagus habis, yakni sapi-sapi peranakan Ongole (PO). “Sebenarnya itu sudah bagus, tapi sapi asli itu kecil. Jadi pasti ada yang jelek. Tidak semua inseminasi buatan itu berhasil dan menghasilkan sapi bagus. Pasti ada faktor X yang memengaruhi,” terangnya.
Lebih lanjut, dia menjelaskan bahwa makanan juga berpengaruh pada anak sapi yang dikandung indukan. Jika ingin menghasilkan peranakan sapi yang bagus, maka pakan sapi juga harus bagus. “Kebanyakan petani kita itu memberi pakan sapi dengan limbah pertanian. Hanya damen, makanya ketika di inseminasi buatan, hasilnya bisa kurus,” jelasnya. (mg2/c1/hai)
Editor : Doni Setiawan