BLITAR - Perempuan yang karib disapa Tawalla ini mengungkapkan, perjalanannya sebagai seorang MUA dimulai saat dia duduk di bangku perkuliahan. Kala itu, dia mendapat pelanggan pertama di sebuah acara wisuda. Tepatnya pada 2010 lalu. Perlahan, dia mulai berani sedikit demi sedikit mengembangkan jaringannya freelance di Surabaya. Saya juga merambah wedding make-up hingga tahun 2015. Klien pertama saya di wedding itu orang India. Hingga akhirnya dapat job pertama di Blitar dan bertahan sampai saat ini,” kata alumnus Unesa ini.
Meski kini banyak disibukkan dengan aktivitas sebagai MUA, Tawalla rupanya tetap aktif berkegiatan sebagai pemateri. Mulai dari workshop, seminar, hingga kelas make-up. Itu menjadi alasan kenapa jaringannya semakin berkembang. Tentu hal ini sangat membantu ibu dua anak ini untuk memperkenalkan usahanya ke pasar yang lebih luas.
“Dalam kegiatan workshop, saya juga sering mendapatkan penghargaan best make- up. Harus upgrade ilmu terus supaya tidak termakan zaman. Karena MUA sekarang sudah pada bagusbagus,”, tuturnya.
Namun, semua itu tidak dia raih dengan mulus. Pada masa pandemi dua tahun lalu, ada banyak pelanggan yang meminta penjadwalan ulang acara. Bahkan, ada pula pelanggan yang urung menggelar pesta pernikahan lantaran terkendala Covid-19.
“Juga ada yang meminta DP dikembalikan, minta dibuatkan baju di waktu mepet, atau pelanggan mengirimkan bukti transfer palsu. Itu waktu pandemi Covid-19 pernah saya alami. Dan itu terbilang cukup sering saya alami,” ucapnya. Meski begitu, Tawalla tak lekas menyerah. Segala kendala yang dia hadapi dijalaninya dengan lapang daada. Menurutnya, itu merupakan tantangan dan risiko sebagai pengusaha. Satu hal yang dia pegang teguh adalah untuk tetap kuat dan berusaha memberi yang terbaik kepada pelanggan.
“Aku sempat merasa down dengan musibah yang aku alami. Tapi, aku yakin Allah tidak akan pernah mengambil sesuatu, melainkan digantikan dengan yang lebih baik. Dan Allah tidak akan memberikan cobaan jika kita tidak akan diangkat derajatnya. Setelah badai, pasti ada pelangi,” tandasnya. (nik/c1/dit)
Editor : Doni Setiawan