Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Ary Masithoh Karimah Pengrajin Ecoprint Ramah Lingkungan, Hasilkan Motif dari Alam

Mila Inka Dewi • Selasa, 14 November 2023 | 06:55 WIB
KUDU TELITI: Berbagai motif ecoprint identik dengan tema alam produksi Ary Masithoh Karimah.
KUDU TELITI: Berbagai motif ecoprint identik dengan tema alam produksi Ary Masithoh Karimah.

BLITAR - Ecoprint merupakan kerajinan yang ramah lingkungan. Pasalnya, semua bahan yang digunakan hingga motif yang dihasilkan berasal dari alam. Begitu juga warna yang dihasilkan akan berbeda, tergantung jenis daun yang digunakan.

Berbeda dengan batik, ecoprint dibuat dengan mengaplikasikan daun atau bunga pada selembar kain untuk dijadikan motif. Banyak cara untuk membuat ecoprint. Salah satunya, metode steam atau kukus. Metode lain seperti pounding atau dipukul dan boiling atau direbus.

“Kalau boiling, warna atau motifnya akan abstrak. Yang pounding sebenarnya akan lebih rapi, tapi membutuhkan proses pengerjaan yang lama. Sedangkan kukus hasilnya akan mudah luntur, tapi jika nanti warnanya sudah dikunci, hasilnya akan lebih bagus,” jelas salah satu pembuat ecoprint, Ary Masithoh Karimah.

Ary menambahkan, ada berbagai macam bahan ecoprint. Seperti bunga, daun, tangkai, maupun akar. Ecoprint bisa dikatakan sebagai kerajinan mencetak daun Meski begitu, tidak hanya mencetak saja, tetapi juga harus memperhatikan jenis kain yang digunakan.

Adapun jenis kain yang menghasilkan ecoprint bagus seperti kanvas, katun, hingga sutra.

Proses pembuatannya yakni menyiapkan selembar kain putih dengan ukuran sesuai selera di alas plastik. Selanjutnya, susun daun atau bunga yang sudah dipilih. “Semua jenis bunga atau daun dapat digunakan, tapi akan menghasilkan ketajaman warna yang berbeda,” jelas warga Desa Purwokerto, Kecamatan Srengat ini.

Selanjutnya, tutup kembali dengan plastik, gulung seperti lontong, dan ikat dengan rapat. Kukus dalam air yang sudah mendidih dengan api sedang. Biasanya membutuhkan waktu sekitar 2 jam agar warna yang dihasilkan cukup tajam.

Jika warna yang dihasilkan dirasa sudah keluar secara sempurna, lanjut Ary, angkat dan peras gulungan kain tersebut hingga cukup kering. Bentangkan kain dengan kondisi masih diselimuti plastik. Selanjutnya, injak-injak atau press bagian motif yang terdapat tangkainya. Itu agar menghasilkan motif yang lebih jelas dan flat dengan kain. Setelah itu, daun yang masih menempel dibersihkan. Kain ecoprint yang sudah jadi harus dianginanginkan kurang lebih seminggu di tempat teduh. Setelah itu, barulah ecoprint dapat dikunci warnanya dengan zat pengunci yang dipilih.

Terakhir, bilas kain dan jemur kembali di tempat teduh hingga kering. “Warna yang dihasilkan oleh daun maupun bunga akan menurun sekitar 25 persen setelah proses penguncian,” paparnya.

Nantinya, kain tersebut bisa dibuat menjadi pakaian. Namun, sejatinya ecoprint dapat diaplikasikan di berbagai media. Seperti sepatu, tas, topi, dompet, tempat tisu, dan sebagainya. Tentunya dengan teknik yang berbeda-beda. Sebab, setiap media pasti mempunyai metode dan tingkat kesulitan masing-masing. (ink/c1/sub)

Editor : Doni Setiawan
#kerajinan #ecoprint #pakaian