BLITAR - Pusat oleh-oleh Makam Bung Karno menjadi pilihan pengunjung untuk mencari oleh-oleh. Namun, sebagian pengunjung mengeluhkan lorong pasar yang sempit.
Kondisi itu disampaikan oleh Kepala Bidang (Kabid) Pengelolaan Kawasan Wisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Blitar, M Sapa’at. Usai berziarah di pusara Makam Bung Karno, pengunjung langsung diarahkan keluar melewati pusat oleh-oleh tersebut. Pegunjung akan melewati lorong yang cukup sempit dan berbelok-belok. “Ya, ada beberapa pengunjung yang bilang begitu (jalan sempit),” katanya kepada Jawa Pos Radar Blitar, kemarin (16/11).
Ada sekitar 200 pedagang yang berjualan di pusat oleh-oleh tersebut. Mereka berjualan setiap hari mulai pagi hingga sore hari. Jumlah tersebut tidak bisa berkurang dan tidak bisa bertambah. Sebab, mereka sudah terdata di disbudpar. “Kalau ada pengurangan, berarti otomatis mereka tidak berjualan,” terangnya.
Menurut dia, pemanfaatan aset daerah sudah ada aturannya. Dengan begitu, tidak bisa serta-merta diubah. Tentunya ada prosedur dan aturan yang harus dipatuhi oleh semua pihak apabila fasilitas di pusat oleh-oleh diubah.
Selain lorong yang sempit, disbudpar juga menerima sejumlah keluhan lain dari pedagang. Misalnya, jualan sepi sehingga dagangan tidak laku. Kondisi itu biasa terjadi ketika hari kerja. “Tapi mereka sampai sekarang nyaman-nyaman saja berjualan di sana,” bebernya.
Para pedagang pun hanya mengandalkan jualan di setiap weekend. Yakni, Sabtu dan Minggu atau hari libur nasional. Pada momen tersebut selalu terjadi peningkatan kunjungan wisatawan, baik lokal maupun luar kota. “Memang wajar kalau hari kerja sepi, tapi mereka masih bisa mengandalkan hasil jualan di hari-hari libur,” ujarnya.
Sementara itu, Aminah, salah satu pedagang mengatakan, kunjungan memang ramai ketika akhir pekan. Jika hari biasa pedagang berjualan mulai pukul 08.00 - 17.30 WIB, sementara momen weekend atau hari libur buka hingga pukul 19.00 WIB. Menurutnya, ketika hari libur, mayoritas pengunjung berasal dari luar kota. “Ya kalau hari biasa memang agak sepi, ramai kalau Sabtu-Minggu, biasa jualan sampai malam,” tuturnya. (ink/c1/sub)
Editor : Doni Setiawan