BLITAR – Jumlah penderita gangguan jiwa di Kabupaten Blitar cenderung meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Pada periode Januari-Oktober tahun ini, tercatat ada 5.057 warga menderita gangguan jiwa. Angka itu didominasi pasien berjenis kelamin laki-laki dalam usia produktif.
Direktur RSUD Ngudi Waluyo Wlingi, Endah Woro Utami mengatakan, dimungkinkan jumlah penderita gangguan jiwa di Kabupaten Blitar lebih besar dari data yang disampaikan. Itu karena masih ada banyak penderita yang enggan datang ke klinik untuk konsultasi.
“Secara umum, jumlah pasien penderita gangguan jiwa yang melakukan konsultasi ke klinik jiwa RSUD Ngudi Waluyo Wlingi terus mengalami kenaikan tiap tahun. Peningkatan cukup drastis saat pandemi Covid-19 di Kabupaten Blitar dan berlangsung hingga sekarang,” ungkapnya.
Rinciannya, pada 2020 tercatat ada 2.430 pasien penderita gangguan jiwa dan pada 2021 sebanyak 2.638 pasien. Kemudian, pasien gangguan jiwa naik hampir dua kali lipat pada 2022 menjadi 4.202 pasien, dan makin meningkat pada bulan ini hingga jumlahnya mencapai 5.057 pasien.
“Rentang usia yang berpotensi depresi itu antara 15 sampai 39 tahun. Penderita gangguan jiwa terbanyak didominasi laki-laki dengan rentang usia 24 sampai 44 tahun. Untungnya ada keluarga dan pasien gangguan jiwa yang sadar akan hal ini sehingga segera konsultasi secara terbuka di klinik,” tuturnya.
Tercatat ada 10 diagnosis terhadap pasien penderita gangguan jiwa yang datang ke klinik. Di antaranya, diagnosis generalized schyzophrenia, depresi, hingga paranoid. Semua menunjukkan hal yang sama. Yakni, adanya peningkatan gejala diagnosis gangguan kejiwaan.
Jumlah kasus, lanjut Woro, pada tiga diagnosis yang disebutkan juga cenderung meningkat. Sebagai gambaran, jumlah diagnosis generalized schyzophrenia pada 2021 hanya mencapai 84 pasien. Jumlah itu kemudian meningkat pada 2022 menjadi 884 pasien, dan kembali meningkat pada 2023 menjadi 932 pasien.
Kemudian, hal yang sama juga tampak pada diagnosis paranoid skizofrenia. Pada 2021 hanya tercatat 84 pasien, lalu meningkat drastis pada 2022 menjadi 502 pasien, dan menjadi 514 pasien pada 2023.
“Untuk diagnosis depresi, dari 13 pasien pada 2021 naik menjadi 240 pasien pada 2022. Jumlah itu terus naik menjadi 393 pada 2023. Hal ini tentu perlu dukungan dari keluarga yang harus menjadi garda terdepan mendampingi selama proses terapi pengobatannya,” tegasnya.
Menurut Woro, gangguan jiwa bukan aib. Oleh sebab itu, perlu penanganan secara intensif begitu muncul gejala. Sayang, minimnya literasi masyarakat akan gangguan kejiwaan membuat banyak penderita terlambat mendapatkan penanganan medis.
“Kita sering mengabaikan gejala seperti susah tidur, malas makan, atau malas mandi. Kalau terjadi secara menerus, ada kemungkinan itu gejala awal gangguan jiwa. Jika kita abaikan, akan meningkat sampai skizofrenia atau paranoid,” ucapnya. (jar/c1/dit)
Editor : Doni Setiawan