Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Perjuangan Purnoaji untuk Hidupi Keluarga, Tak Menyerah Meski Disabilitas, Kreatif Bikin Kerajian dari Kayu Bekas

Didin Cahya Firmansyah • Kamis, 11 Januari 2024 | 02:20 WIB
TEKUN: Purno Aji menunjukan salah satu miniatur truk buatannya sebelum dilepas ke pembeli.
TEKUN: Purno Aji menunjukan salah satu miniatur truk buatannya sebelum dilepas ke pembeli.

BLITAR-Menjadi disabilitas tidak menghambat kinerja Purnoaji. Berpangku tangan dan meminta belas kasihan bukan jalannya dalam menempuh perjuangan kehidupan.

Demi mencukupi kebutuhan dapur keluarganya, berbagai usaha yang bisa dilakukannya. Termasuk membuat berbagai kerajinan dari kayu.

Bapak dua anak ini mengaku sudah mengalami kecacatan sejak masih duduk di bangku sekolah. Dia teringat betul bagaimana kejadian itu merenggut tanggan kanannya.

Dia mengungkapkan peristiwa itu terjadi ketika menaiki pohon dan terjatuh saat kelas 2 SD. Saat itulah siku kananya patah dan tidak bisa tersambung. Karena mengalami infeksi, mengharuskanya merelakan tangan kanannya.

Dia memilih untuk mengikuti berbagai pelatihan guna menunjang keterampilannya agar bisa bertahan hidup.

Yakni memulai usaha di dunia kayu sejak 2008 silam. Sejak saat itu berbagai kerajinan dari kayu sudah pernah dibuatnya. Mulai dari ayunan kuda-kudaan, lemari, alat musik dari kayu, suvenir, dan bandul kunci.

“Dulu itu jualnya ya di Makam Bung Karno atau kalau ada permintaan ya buat. Saat pandemi masih ramai, namun kini cenderung sepi,” ujarnya.

Dulu dari membuat berbagai kerajinan, kini fokus permak truk mainan. Berbekal alat-alat elektronik dimilikinya.

Dalam sebulan mampu membuat berbagai ukuran dan jenis truk sebanyak 100-150 buah. Ada berbagai jenis truk yang dibuatnya, seperti dengan model biasa, spekeran, cerobong asap, dan model ada terpal.

“Jumlah dan modelnya itu tergantung pesanan. Kalau awalnya pembuatan truk itu untuk menyenangkan anak saya masih kecil. Karena bagus, akhirnya warga sekitar memesan. Dari situ, banyak mayarakat yang memesan dan diedarkan ke berbagai tempat,” akunya.

Tidak membutuhkan bahan mahal, berbekal kayu bekas hasil pemotongan tidak terpakai. Dia potong dan dipergunakan bagian yang layak. Biasanya dirinya menggunakan kayu waru dan mahoni dalam membuat truk mainan.

Sebenarnya, tidak ada ketentan khusus harus kayu apa yang digunakan. Terpenting ialah memanfaatkan kayu bekas.

Selain itu kayu bekas juga terbilang ramah di kantong. “Kalau kayu itu seadanya, tidak perlu khusus,” ungkapnya.

Sejauh ini, untuk pemasaran masih mengandalkan pengepul datang kerumahnya. Dia mengungkapkan selama ini pemasaran produk hasil buatanya tersebar dari berbagai daerah. Baik di lokalan atau luar kota.

“Sebenarnya tidak ada pembatasan, jika ada pedagang lainya yang mengambil atau memesan tidak apa-apa,” ujarnya.

Harga mainan kendaraannya terbilang terjangkau. Dari Rp 30 ribu-Rp 100 ribu, tergantung ukuran dan model. “Kalau dari perajin itu memang tidak ada yang mahal,” ungkapnya.***

Editor : Luqman Hakim
#disabilitas #kerajinan #kisah inspiratif #Kota Blitar