BLITAR - Kenaikan harga kebutuhan pokok, beras, terjadi di Kota Blitar sekitar satu bulan lalu.
Di antaranya, beras kualitas biasa dari harga Rp11 ribu per kilogram naik menjadi Rp15 ribu per kg. Begitu juga dengan beras kualitas sedang dan bagus. Naik sekira Rp2 ribu hingga Rp3 ribu.
Namun pasca kegiatan operasi pasar beras murah Rabu (28/2/2024), Wali Kota Blitar Santoso menyakini kegiatan itu akan mempengaruhi harga beras, berangsur stabil.
"Fakta di lapangan saat operasi pasar dengan gelontor 8 ton beras, selama tiga hari itu saja dampaknya terasa. Bahwa harga beras di kota tidak ikuti dinamika seperti di daerah lain, terus melambung," ungkapnya.
Wali Kota Blitar Santoso mengklaim harga beras mulai turun, mengalami penurunan menjadi Rp15 ribu per kilogram.
“Di tempat lain-lain sudah Rp16 ribu sampai Rp18 ribu per kg," ujarnya setelah membuka acara penyerahan batuan pangan dari Badan Pangan Nasional (Bapanas) kepada keluarga penerima manfaat (KPM) di Kantor Kelurahan/Kecamatan Sananwetan, Rabu (28/2/2024).
Namun Waki Kota Blitar mengakui bahwa fenomena kenaikan harga beras ini membuat warga gelisah.
Tak ayal, warga tumpah ruah mengikuti operasi pasar beras murah. Itu demi membeli beras dengan harga eceran tertinggi (HET) Rp52 ribu per 5 kg dari Bulog.
Selain itu, Santoso berharap menurunnya produksi dan produktivitas padi di Kota Blitar sepanjang 2023 tidak berimbas pada kenaikan harga beras, seperti yang terjadi di daerah lain.
"Dengan operasi pasar semoga (harga) bisa stabil lagi. Selain itu di kota harapannya tidak berdampak signifikan akibat harga beras, seperti di kota lain," ujarnya.
Sementara itu, produksi padi di Kota Blitar pada 2022 mencapai 10.191 ton dengan tingkat produktivitas 9,61 ton per hektare (ha).
Sedangkan pada 2023 produksinya susut 2 ton. Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Blitar merinci, produksi padi susut menjadi 8.169 ton dengan poduktivitas menurun menjadi sekira 8,19 ton per ha***
Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra