BLITAR KOTA - Aksi kirab barongsai memperingati Tahun Baru Imlek 2570 diselimuti hujan, Sabtu (16/2). Akibatnya, sejumlah pemain barongsai berhamburan mencari tempat untuk berteduh di pinggir jalan. Tak hanya itu, barongsai pun terpaksa diselimuti atau ditutupi dengan plastik. Dengan harapan agar tidak terkena terpaan air hujan. Meski begitu, kirab barongsai mengelilingi ruas jalan protokol Kota Blitar itu tetap berlanjut. Masyarakat tetap antusias menyaksikan atraksi pemain barongsai untuk memperingati Imlek sekaligus Cap Go Meh itu. Agar tidak basah terkena hujan, kepala barongsai ada yang dibungkus plastik. Sebagian yang lain tetap dibiarkan terbuka untuk pertunjukan atraksi. Termasuk naga liong.
Kirab barongsai sebagai puncak perayaan Tahun Baru Imlek itu diberangkatkan dari Klenteng Poo An Kiong sekitar pukul 13.00. Selang 15 menit kemudianm saat melintas di Jalan Mastrip tiba-tiba hujan. "Kami langsung berteduh sebentar. Tetapi untuk yang bawa alat musik tetap lanjut," kata Daniel, pelatih barongsai, kepada Jawa Pos Radar Blitar, Sabtu (16/2).
Setelah hujan reda, para pemain barongsai melanjutkan lagi perjalanan kirabnya. Tidak disangka,
hujan kembali mengguyur. Pemain barongsai pun berteduh lagi. "Kami sampai berteduh tiga kali kalau tidak salah," ujarnya lantas tersenyum.
Meski begitu, kata Daniel, hujan tidak menghalangi ritual kirab. Itu malah menjadi sebuah berkah tersendiri. "Harapan awal sih inginnya cerah tadi (kemarin, Red). Tapi tiba-tiba mendung. Ya mau gimana lagi, memang musim hujan," katanya.
Kirab barongsai tahun ini sedikit berbeda daripada tahun lalu. Sebab, di kirab tahun ini, Dewa Bumi juga ikut diarak mengelilingi jalanan protokol Kota Blitar. Meski diguyur hujan, prosesi kirab tetap semarak. Sejumlah warga ada yang berebut untuk memberi angpao kepada barongsai. Sebagian yang lain ada yang menjepret atraksi barongsai.
Editor : Didin Cahya Firmansyah